Sunday, 18 August 2019

Kesalahan Pembinaan

Prestasi Bulutangkis Indonesia Anjlok

Sabtu, 4 Agustus 2012 — 1:18 WIB
iluspresytasi

JAKARTA (Pos Kota)- Sedih. Itulah yang dirasakan rakyat Indonesia ketika mengetahui tim bulutangkis gagal menjaga tradisi medali emas di Olimpiade London 2012. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang menjadi harapan terakhir kandas di semifinal usai ditekuk Xu Cen/Ma Jin, Kamis (2/8) kemarin.

Susi Susanti, mantan juara olimpiade Barcelona 1992 menegaskan bukan hanya dirinya yang sedih dengan kegagalan Tontowi/Liliyana. Susi menilai rakyat Indonesia juga pasti sedih dengan kegagalan meraih emas.
“Seluruh bangsa pasti sedih, karena kita merasa memiliki. Bulutangkis sudah menjadi milik bangsa ini. Tapi, ini bukan akhir dari segalanya,” papar Susi.

Sementara itu, legenda hidup lainnya, Liem Swie King mengatakan, kegagalan mempertahankan tradisi meraih emas menjadi pukulan tersendiri.

“Menang atau kalah itu biasa dalam pertandingan, apalagi setingkat olimpiade. Yang penting sekarang adalah kita melihat ke depan bagaimana. Apa selama ini ada yang kurang dalam pembinaan atau apa,” ujar pemain yang dijuluki King Smash ini.

Dengan masih berada dalam tren prestasi yang sangat menurun, Indonesia disebutnya sudah tak lagi dipandang sebagai kekuatan bulutangkis dunia.
“Secara garis besar, di ajang Olimpiade dan Thomas-Uber memang sangat menurun. Kita sekarang ada di bawah. Negara lain menganggap kita bukan sebagai juara dunia lagi. Indonesia kehilangan pamor sebagai salah satu kekuatan bulutangkis dunia dan tak ditakuti lagi,” beber King.

Menurut mantan juara dunia Joko Supriyanto, terputusnya rantai tradisi emas di ajang olimpiade merupakan kesalahan PBSI dalam pembinaan. “Ada yang keliru dalam sistem pembinaan disana. Mereka menganggap apa yang mereka programkan sudah tepat, padahal belum tentu, karena mereka tidak melibatkan orang-orang yang betul-betul paham dalam soal bulutangkis.
Sinyal ini sudah kami nyalakan pasca kehancuran di Thomas dan Uber Cup kemarin lewat putusan petisi bulutangkis Indonesia. Komponen bulutangkis harus secepatnya menyadari, bahwa pola pembinaan di PBSI harus dirubah,” beber Joko yang juga anggota petisi bulutangkis Indonesia pada Pos Kota, Jumat (3/8)

MINTA MAAF

Stamina kedodoran yang dikeluhkan Tontowi/Lilyana juga mendapat perhatian Joko. “Kenapa mereka mengeluhkan soal stamina? Berarti di pola makanan dan latihan juga pasti ada yang salah. Ini juga jadi catatan kami,” imbuhnya.

Sementara itu, Tontowi dan Lilyana meminta maaf pada pecinta bulutangkis Indonesia atas kegagalan mereka menembus final. “Kami minta maaf, kami merasa dalam tekanan dan kurang fokus menghadapi China. Stamina kami juga terkuras di gim kedua, sekali lagi kami minta maaf,” kata Lilyana penuh kecewa.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono merasa prihatian dan menyayangkan skandal bulutangkis di Olimpiade 2012, yang juga melibatkan satu pasangan ganda putri Indonesia.

Meilina Jauhari/Greysia Polli beserta dua pasangan Korea Selatan dan satu ganda China didiskualifikasi dari ajang tersebut karena “mencoba kalah” dalam pertandingan mereka di babak grup hari Rabu lalu.
“Saya prihatin dan saya sayangkan hal itu terjadi,” kata Agung di gedung Kemenkokesra, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (3/8) siang.

Menurut Agung, saat ini pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga sedang melakukan investigasi untuk mengetahui apakah tim Indonesia memang melakukan kesalaham serta siapa yang harus bertanggung jawab..
“Kita tunggu saja laporan Menpora,” ujar menteri yang juga wakil ketua umum Partai Golkar tersebut.(ali)

  • harry

    kalo menurutku sih semua pengurusnya pada ngundurin diri aja dah karna gak becus!!!