Saturday, 22 September 2018

Trotoar Atau Apa ?

Selasa, 7 Agustus 2012 — 10:41 WIB

“Wah, kulihat sekarang DKI lagi ngebut beresi trotoar,” kata Pak Saragih, dosen di sebuah perguruan tinggi di Bandung ketika bertemu lagi jalan di Braga.

“Yalah. Masak kalah sama Bandung,” jawab saya.

“Mudah-mudahan saja pejalan kaki kayak kita ini bisa nyaman. Dan yang penting, jangan sampai proyek itu dimainkan. Jangan sampai ada yang jatuh karena trotoar.”

“Maksudnya benar-benar terjatuh, atau nyindir.”

“Ya, dua-duanyalah. Jangan sampai ada pejalan kaki terjatuh mungkin karena nggak rata. Atau jatuh karena diperiksa KPK,” katanya sambil tertawa kecil belok masuk ke sebuah galeri. Kami berpisah, karena saya sudah janji mau bertemu kawan di Pikiran Rakyat.

Pak Saragih, kawan saya itu dulu pernah jadi wartawan. Saya tak tahu kenapa ia tak terus jadi wartawan, malah jadi dosen. Begitu pun,katanya, sesekali ia menulis juga. Ia mengaku sering membaca tulisan saya. Saya senang Pak Saragih, biar sudah lama di Bandung tapi gaya Medannya nggak luntur. Senangnya lagi ia masih peduli dengan pembangunan di DKI.

Memang, sekarang  Pemprov DKI sedang membenahii trotoar di Jakarta. Saya coba-coba buka buku Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan  Badudu-Zein. Disebutkan, trotoar jalan di tepi jalan besar yang biasanya lebih tinggi dari jalan besar itu, tempat orang berjalan kaki. Itu kata kamus. Di beberapa jalan memang trotoar terasa manfaatnya bagi pejalan  kaki seperti di Jalan Thamrin dan Merdeka Barat. Tapi di banyak jalan lainnya, trotoar bukan lagi untuk pejalan kaki.

Siapapun setuju trotoar dibenahi.  Tapi kalau yang dilakukan di Jalan Pecenongan dan Jalan Letjen Suprapto, misalnya, rasanya banyak orang yang geleng kepala. Saya enggak tahu, apa Abang pernah  lewat di situ. Saya pernah, dari arah Sawah Besar belok ke Pecenongan.  Saya enggak tahu persis apa itu trotoar, atau pinggiran toko yang dibenahi. Di pinggir jalan tetap parkir kendaraan bermotor.

Begitu juga halnya ketika sampai di Galur, saya masuk jalur lambat. Trotoar lagi dibenahi. Sama halnya di Pecenongan. Trotoar yang diberesi juga persis di depan pintu toko atau rumah. Parahnya lagi di beberapa bagian ada warung dan tangga jembatan penyeberangan. Saya pikir, apa perlu trotoar seperti itu diberesi? Toh akhirnya sama juga di tempat lain, begitu selesai, dikuasai parkir dan pedagang.

Saya nggak mau bicara soal campuran pasir dan semennya, Bang. Abang lebih ahlinya. Cuma itulah, apakah trotoar yang dibenahi itu seperti yang dimaksudkan di dalam kamus yang saya baca?  Rasanya Abang lah yang lebih tahu. Yang jelas, banyak yang geleng-geleng kepala melihatnya. Percuma, pikir mereka. Habis-habisi uang saja, pejalan kaki tetap saja tak jalan di situ. (lubis1209@gmail.com)*