Nah Ini Dia

Kamis, 16 Agustus 2012 10:32:02 WIB

Buaya Darat Masuk Hotel

dia-16-agust

DI SURABAYA, buaya masuk kali Porong atau Kali Mas, itu wajar saja. Tapi di Hotel Pusaka, ada buaya pakai tanda petik mati mendadak setelah kencan dengan kenalan baru. Bagaimana Mbah Mulyakin, 60, ini nggak disebut buaya darat? Ada cewek minta ditunjukkan alamat, malah dibawa ke hotel cari nikmat!

Para ustadz berulang kali mengingatkan, di bulan puasa hendaknya memperbanyak amalan berbuah pahala. Bukan saja puasa dan mengekang hawa nafsu, tapi santuni anak yatim, iktikaf di mesjid. Karena semua amalan di bulan Ramadan, pahalanya dilipatgandakan, sehingga orang pun menyebut Ramadan adalah bulan penuh berkah. Bahkan bagi yang tahu nikmatnya Ramadan, kalau bisa setahun isi 365 hari itu diisi bulan Ramadan semua.

Tapi Mbah Mulyakin dari Kelurahan Sidotopo Wetan Kecamatan Kenjeran Surabaya ini sungguh lain dari yang lain. Mungkin Islamnya hanya tertera di KTP, puasa nggak puasa fi’ilnya sama saja. Meski di rumah ada keluarga, masih suka petentang-petenteng berburu wanita. Karena dia memang punya semboyan: biar tampang Pepabri tapi semangat masih Akabri, baru wisuda lagi.

Seperti beberapa hari lalu, menjelang magrib bukan di rumah menunggu buka sambil ngadep kolak dan sop buah, eh malah klintong-klintong cari angin sampai ke Terminal Joyo Boyo segala, padahal dia bukan pengojek. Ketika kemudian ada gadis turun bis dari Mojokerto, ditegurnya hendak ke mana. Wanita lumayan cantik bernama Parisih, 30, itu mengaku hendak mencari paman di Jl. Gadukan Baru. “Lho, saya tahu itu, mau saya antar?” kata Mbah Mulyakin ramah.

Melihat wajah tua si kakek, Parisih dengan senang hati menerima uluran bantuannya. Maka gadis dari Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, Mojokerto ini terus diboncengkan Honda Bebek si kakek menuju ke lokasi. Tapi ternyata Parisih hanya diajak muter-muter tanpa tujuan. Karena memang buta situasi Surabaya, wanita itu diam saja tanpa curiga.

Sekitar pukul 20.00 malah diajak masuk ke Hotel Pusaka Jl. Pandegiling dan masuk kamar. “Kok ke sini sini ta Pak?” kata Parisih mulai curiga. Jawab Mbah Mulyakin ternyata: “Sudah, kamu lepas baju saja, layanilah aku sebagaimana layakanya suami istri. Kalau tidak, kamu nanti nggak sampai rumah.”

Mendengar ancaman Mbah Mulyakin, Parisih jelas kaget, karena merasa masuk sarang buaya. Tapi mau menolak dan lari, dia tak tahu sama sekali kota Surabaya. Walhasil dia melayani saja kemauan si kakek buaya darat ini.Tapi ternyata Mbah Mulyakin hanya tongkrongan doang. Tangkringannya, hanya sekitar lima menit sudah terkapar KO.

Mbah Mulyakin lalu istirahat. Tapi dalam hitungan detik mendadak dia kejang-kejang dengan mulut membusa. Belum juga Parisih memberikan pertolongan seperlunya, si kakek ternyata sudah “wasalam” di ranjang dengan kondisi setengah telanjang. Parisih pun minta tolong petugas hotel. Ternyata Mbah Mulyakin memang sudah habis, sehingga polisi pun dihubungi.

Ada ada saja, ada “buaya” mati dalam hotel! (HS/Gunarso TS)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.