Tuesday, 25 September 2018

Dibakar Massa Saat Lebaran

Ditemukan Mayat di Padepokan Aliran Sesat

Selasa, 21 Agustus 2012 — 18:24 WIB
ilusdi

SUKABUMI (Pos Kota) – Aparat Polres Sukabumi menemukan sesosok mayat di kebun milik pimpinan aliran sesat pimpinan Sumarna, Ahad (19/8) malam. Lokasi penemuan mayat tersebut berada di Kampung Cisalopa, Desa Bojong Tipar, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Hingga kini, kepolisian setempat terus menyelidiki kasus dugaan pembunuhan tersebut.

Dari keterangan warga, mereka menduga jenazah itu adalah Ustad Endin yang hilang diculik pengikuti aliran sesat kelompok Sumarna beberapa hari lalu.

Ustadz Endin dari informasi warga merupakan mantan pengikut aliran sesat kelompok pimpinan Sumarna. Setelah insyaf, Ustadz Endin paling keras menentang keberadaan aliran yang disebarkan Sumarna.

Kepastian sesatnya ajaran Sumarna telah dinyatakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena meniadakan salat Subuh dan salat Jumat.

Kapolres Sukabumi AKBP M Firman menjelaskan, warga mendapatkan informasi ada ustadz yang disekap oleh aliran sesat. Mendengar informasi itu, massa kemudian mendatangi permukiman aliran sesat Attijaniyah pimpinan Sumarna. Namun waktu itu warga tidak menemukan apapun di lokasi padepokan kelompok Sumarna.

“Pada Minggu malam, dibantu aparat TNI dari Yonif 310/Kidang Kencana menemukan sesosok jenazah yang diduga ustad Endin di kebun singkong milik Sumarna. Tapi untuk menguatkan dugaan tersebut polisi akan melakukan tes DNA,” kata Firman kepada wartawan.

Ditegaskan Firman, pihaknya juga telah mengamankan sejumlah pelaku yang diduga melakukan pembunuhan. Mereka diduga berperan sebagai penyuruh dan yang melaksanakan di lapangan.

“Kita masih menyelidiki penemuan mayat ini. Kita juga mengamankan lokasi di sekitar permukiman aliran sesat itu dengan dibantu dari Brimob Polda Jabar,” tegasnya.

Sementara itu, massa setempat sebelum adanya penemuan sesosok mayat telah membakar beberapa bangunan pedepokan yang dijadikan lokasi untuk menyebarkan ajaran Sumarna . Mereka kesal dengan ulah kelompok tersebut karena menyebarkan paham yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Di lokasi berbeda, perwakilan perguruan Tarekat Attijaniyah, KH Abdul Matin saat bertemu dengan MUI setempat menegaskan aliran sesat kelompok Sumarna di Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi bukan bagian dari tarekat Attijaniyah.

Dasarnya, kelompok Sumarna telah menyimpang dari ajaran Islam karena meniadakan shalat Subuh dan shalat Jumat.

“Kami tegaskan kelompok Sumarna bukan bagian dari Attijaniyah. Penegasan ini karena adanya klaim dari kelompok Sumarna bahwa mereka pengikut tarekat Attijaniyah,” kata Matin, Selasa (21/8).

Ditegaskan Matin, tarekat Attijaniyah memegang teguh syariat Islam dan menjalankan salat lima waktu. Sementara kelompok pimpinan Sumarna berani merubah Rukun Islam dengan meniadakan kewajiban salat Subuh dan Jumat.

“Ajaran Sumarna jelas menyimpang. Sementara tarekat Attajaniyah sesuai dengan syariat Islam. Kelompok Sumarna bukan bagian dari tarekat Attajaniyah,” tegas Matin.

Bupati Sukabumi, Sukmawijaya menuturkan ajaran tarekat Attijainiyah tidak bermasalah. Namun, yang menyimpang adalah ajaran yang diterapkan kelompok Sumarna. Diakui Sukma, sekitar awal Juli lalu pemda meminta aparat hukum untuk tidak menindak para pengikut aliran sesat Sumarna. Hal ini dilakukan dalam memberikan waktu untuk membina para pengikut aliran tersebut. (sule)

TEKS :Padepokan aliran sesat yang dipimpin Sumarna dibakar massa pada hari Lebaran.