Wednesday, 14 November 2018

Tidak Perlu Salat dan Berhaji

Aliran Sesat Resahkan Warga Bogor

Sabtu, 25 Agustus 2012 — 22:38 WIB
ilusaliran

BOGOR (Pos Kota) – Ratusan warga dari RW 5 dan 6 Kampung, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, mendatangi kantor Kecamatan Dramaga dan menuntut agar aliran “Pajajaran Panjalu Siliwangi” yang diduga sesat, segera dibubarkan, Sabtu (25/8/) siang.

Kemarahan warga dipicu lantaran kelompok aliran sesat tersebut masih mengamalkan dan menyebarkan ajarannya meski sebelumnya sudah mengaku bertobat dan akan kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya.

Disebut sesat, karena selain boleh meninggalkan salat lima waktu, puasa dan zakat, aliran ini juga menghalalkan pengikutnya untuk berhubungan intim dengan suami atau istri sesama pengikut aliran.

Menurut warga, aliran yang kemudian di sebut dengan aliran Pajajaran Panjalu Siliwangi ini berpusat di padepokan silat dan pengobatan yang berlokasi di Kampung Lemah Dulur, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Aliran yang sudah ada sejak setahun terakhir ini merekrut warga sekitar menjadi pengikutnya.

Sasaran aliran sesat ini adalah pemabuk, yang memiliki masalah keluarga (broken home,red), dan yang sedikit pengetahuannya tentang ajaran Islam.

“Informasinya ada 7 orang warga Desa Cikarawang yang sudah jadi pengikutnya. Pengikutnya yang lain banyak, kebanyakan pendatang. Jumlahnya sekitar 50 orang kalau lagi kumpul,”kata Khaerudin 34, warga sekitar.

Khaerudin mengaku, ia dan warga lainnya sudah sangat resah dengan keberadaan aliran sesat tersebut. “Kami cuma ingin aliran ini dibubarkan dan tidak ada lagi ajarannya di wilayah kami,”paparnya.

Aliran Pajajaran Panjalu Siliwangi yang diduga sesat ini memiliki ajaran yang dianggap menyimpang oleh ulama dan warga sekitar.
Beberapa ajaran dalam aliran tersebut antaralain; merubah kalimat kedua dalam Syahadat, yang kemudian oleh pengikut aliran sesat ini disebut sebagai “Syahadat Bogor”.

Dalam ajarannya, mereka merubah kalimat kedua dalam syahadatnya. Seharusnya kan kalimatnya ‘Wa asyhadu anna Muhammadurrosulullah.
Tapi mereka mengganti kalimat Muhammad, dengan nama yang diberikan oleh ketua aliran mereka. “Misalnya, ‘wa asyhadu anna Pangeran Bagja Rosulullah’. Ini yang menurut kami menyimpang,”kata Dewan Penasihat MUI Kabupaten Bogor, Khaerul Yunus.

Menurutnya, nama yang disebutkan dalam kalimat “syahadat bogor” sesuai dengan nama yang diberikan oleh guru dalam aliran tersebut. “Guru mereka itu Agus Sukarna 25 tahun dan disebut sebagai ‘Romo’. Romo ini yang nantinya memberikan nama yang akan disebut dalam kalimat ‘Syahadat Bogor’,” ungkap Khaerul.

Selain merubah kalimat dalam Syahadat, aliran ini juga membolehkan pengikutnya untuk melakukan hubungan intim dengan sesama pengikut aliran Pajajaran Panjalu Siliwangi.

Tidak hanya itu pengikut aliran diduga sesat ini juga diperbolehkan untuk tidak melakukan salatlima waktu dan puasa di bulan ramadhan. Dalam aliran ini, juga ada ajaran bahwa melakukan ibadah haji itu tidak harus ke Mekkah (arab saudi,red), tetapi boleh dilakukan dengan cara menyembah dan mengelilingi sebuah bangunan yang berada di padepokan (pusat penyebaran,red) mereka.

“Mereka gak perlu ke mekkah kalau mau ibadah haji. Cukup datang ke padepokan dan sembah-sembah saung (bangunan gubug,red) di padepokan. Katanya ibadah haji cukup satu malam saja,”papar Khaerudin.

Dewan Penasihat MUI (majelis ulama indonesia) Kabupaten Bogor, Khaerul Yunus, mengatakan, aliran yang diduga sesat tersebut sudah sempat menandatangani surat pernyataan yang berisi bahwa mereka akan bertobat dan kembali ke dalam ajaran Islam, pada akhir Juli lalu. Karena menurut MUI Kabupaten Bogor, aliran tersebut merupakan aliran yang menyimpang dan sesat.

“Kami terima laporan warga pada 27 Juli lalu tentang keberadaan aliran yang diduga sesat ini. Kemudian kami datangi dan lakukan mediasai. Saat itu mereka (Guru dan pengikut aliran Pajajaran Panjalu Siliwangi,red) mengaku ingin bertobat dan menandatangani surat pernyataan,”kata Khairul Yunus. Namun dikemudian hari, ternyata para pengikut dan pimpinan aliran Pajajaran Panjalu Siliwangi masih menjalankan dan menyebarkan ajarannya.

Ternyata mereka masih tidak salat dengan alasan tidak wajib. Dan tidak berpuasa saat bulan Ramadhan karena ajaran mereka membolehkannya. Ini yang kemudian membuat warga sekitar kembali marah dan merasa resah.

Sekertaris Kecamatan Dramaga, Suma, mengatakan, setelah terjadi demontrasi warga, pihak Muspida langsung memanggil guru dan pengikut aliran Pajajaran Panjalu Siliwangi, untuk dilakukan mediasi. “Mereka sudah bertobat. Dihadapan warga yang berdemo, Agus Sukarna (Guru dala aliran Pajajaran Panjalu Siliwangi,red) mengaku bertobat dan tidak akan menyebarkan ajaran alirannya,”kata Suma.

Kapolsek Dramaga, AKP Pahyuni pihaknya terus mendata jumlah anggota pengikut kelompok ini.Pasalnya dari berkas yang disita, tertera ada 50 orang dari warga desa cikarawang dan desa lainnya yang jika ditotal hampir mencapai ratusan pengikut.

“Selain dari Desa Cikarawang ada juga dari Desa Babakan. Buku kitabnya UNU,”tandas AKP Pahyuni.

Antisipasi aksi massa meluas, kepolisian akan mengumpulkan semua Kades, Camat untuk langkah lanjutan.(yopi)