Wednesday, 24 April 2019

Selamat Kepada Malaysia

Senin, 3 September 2012 — 9:14 WIB

SEKITAR 45 tahun yang lalu penulis mengunjungi Malaysia. Sebagai wartawan kami diajak oleh Wakil Perdana Menteri Tun Abdul Razak (ayah Perdana Menteri Najib Tun Abdul Razak sekarang) untuk mengunjungi daerah-daerah luar Bandar atau sebutan pedesaan untuk di Indonesia. Keliling di seluruh negeri, di sana Tun Razak memiliki kegandrungannya terhadap pembangunan pedesaan.

Dalam suatu kepada penulis, Tun Abdul Razak menyatakan bahwa mayoritas masyarakat Malaysia adalah di luar Bandar. Oleh karena itu Pemerintah mengutamakan masalah kesejahteraan. Di sini kita tidak bicara politik, kata Tun Abdul Razak. Tetapi kita bicara pembangunan yang hakiki, yakni pembangunan ekonomi, pembangunan kesejahteraan. Lima atau sepuluh tahun yang akan datang hasilnya bisa dipetik.

Waktu itu Tun Abdul Razak menggalakkan penanaman kelapa sawit, pisang, dan tanaman-tanaman keras lainnya. Untuk nabati hewani Tun Razak membagi-bagikan bibit ikan untuk dikembangbiakkan di kolam ikan. Ketika penulis tanya ”Bagaimana Anda mengawasi FELDA atau pembangunan luar Bandar?” Dengan tenang Tun Razak menjawab ”Setiap kawasan kita memiliki ”operation room” atau ”bilik operasi” yang harus melaporkan perkembangan di kawasan itu. Di sini kita bisa melihat perkembangan dan pengawasan itu dilakukan. Kemudian ditambahkan oleh Tun Razak bahwa suatu saat nanti orang luar Bandar tidak perlu berdatangan ke kota-kota besar, jadi tetap mengembangkan daerah kawasannya. Tidak perlu ada urbanisasi.

Benar kata Tun Razak, rakyat tetap berada di kawasan luar Bandar dan jarang mereka pergi untuk urbanisasi. Contoh, Ibu Kota Kuala Lumpur, sejak dulu hanya sekitar 2 sampai 3 juta penduduknya. Di sini pentingnya pembangunan luar Bandar. Oleh karena itu Indonesia juga meniru waktu itu dengan cara mengembangkan pembangunan pedesaan. Di Malaysia waktu itu digalakkan listrik masuk desa, TV masuk desa. Koran masuk desa, sekolah masuk desa, buku murah masuk desa, semuanya masuk desa dan itupun mengembangkan sistem pertumbuhan dan pemerataan.

Indonesia apalacur, yang terjadi sebenarnya sebelum zaman reformasi, pembangunan pedesaan diutamakan. Tetapi sejak reformasi pembagunan pedesaan ditelantarkan dan saat ini penduduk Jakarta yang mencapai 12 juta orang merupakan problem pokok.

Tanggal 31 Agustus yang lalu Malaysia merayakan Ulang Tahun Kemerdekaanya, dan tetap disemangati dengan mendahulukan pembangunan masyarakat. Penulis dua minggu yang lalu berada di Malaysia. Seperti napak tilas, hampir semua lini ditempati oleh generasi baru pemuda. Kita sebagai jiran ikut bangga bahwa Malaysia mampu mengembangkan pembangunannya, bahkan mampu menyerap Tenaga Kerja Indonesia. Apalagi di bidang kelapa sawit dan berbagai lini Tenaga Kerja di Malaysia.

Karena Malaysia menggunakan system British (sistem jajahan Inggris), maka pengaturan tata kota dan lain-lain meniru yang baik dari Inggris dan membuang yang jelek dari Inggris. Kehidupan sosial di Malaysia tak ubahnya dengan kehidupan sosial di Indonesia, yaitu kemajemukan ada, antar etnis ada, antar kaum dan golongan ada, antar agama ada. Tetapi tidak ada gejolak, karena dikelola dengan baik persatuan dan kesatuannya.

Dengan demikian kita ucapkan Selamat Ulang Tahun Kemerdekaan kepada Malaysia. Ada masalah internal yang tidak perlu dicampuri. Semoga mampu diselesaikan oleh pemimpin-pemimpin di Malaysia, termasuk masalah oposisi atau pembangkan di Malaysia. Wajar saja, di semua negara ada masalah oposisi itu. Sekali lagi ”Selamat Ulang Tahun Kemerdekaan”.