Saturday, 20 October 2018

Pengolah Limbah Kapal Pelindo II Sering Nganggur

Rabu, 5 September 2012 — 19:00 WIB
Marunda

JAKARTA (Pos Kota) – Fasilitas pengelolaan limbah kapal atau reception facilities milik Pelindo II  sering kali menganggur atau tidak dimanfaatkan oleh sejumlah kapal yang melayani rute international (ocean going) yang sandar di Pelabuhan Tanjung Priok.

Operator kapal lebih memilih limbah kapal berupa oli dan sebagainya menjualny kepada pengepul limbah yang marak beroperasi di pelabuhan itu, ketimbang memanfaatkan reception facilities di Pelabuhan Tanjung Priok karena terkena biaya/tarif resmi penanganan limbah dan relatif mahal.

Beberapa pemilik kapal mengatakan setiap kapal internasional yang melayani dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok bisa menghasilkan limbah (oli) bekas hasil operasional kapal sebanyak 5 ton (lima drum besar), sedangkan arus pergerakan kapal internasional di pelabuhan itu mencapai 50-60 unit/hari.

Sedangkan fasilitas limbah yang dibangun Pelindo II dengan ratusan miliar tersebut sudah setahun ini tampak kurang diminati, akibatnya BUMN operator pelabuhan tersebut kehilangan pendapatan miliaran rupiah selama menganggur.

Dibangunnya faslitas limbah tersebut bertujuan agar kapal yang sandar di Pelabuhan Priok tidak sembarangan membuang limbah olinya di tengah laut sehingga demi keselamatan lingkungan sekitar pelabuhan, tetapi saat ini kondisinya berbalik justru kini limbah kapal di jadikan komoditi yang bisa menghasilkan keuntungan bagi operator kapal karena di sekitar perairan pelabuhan maupun lewata darat banyak pengepul limbah yang bersedia membeli limbah bekas tersebut.

General Manager Pelabuhan Tanjung Priok, Cipto Pramono mengatakan, pihaknya sudah mengeluarkan ederan kepada seluruh operator terminal seperti Jakarta International Contair Terminal ( JICT) , Terminal Petikemas (TPK)Koja dan Car Terminal di Pelabuhan Tanjung Priok untuk kembali memanfaatkan  reception facilities milik Pelindo II di Pelabuhan Tanjung Priok.

“Saya sudah mengeluarkan surat edaran dan kami akan menertibkan para pengepul limbah liar tersebut karena sudah menjadi kewajiban operator pelabuhan menyediakan sarana fasilitas penampungan limbah agar laut kita tidak tercemar,” kata Cipto. (dwi/dms)