Sunday, 21 April 2019

Capres,Camen dan Cagub, Tewas???

Kamis, 6 September 2012 — 8:41 WIB

MASALAH begitu ”makin menumpuk” yang membuat masyarakat ”takut menghadapi hidup” di Indonesia. Banyak pemimpin yang tahu diri, banyak pemimpin yang hanya memikirkan kepentingan kelompok dan golongannya, bahkan hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan kepentingan bangsa dan negaranya. KPK kembali membidik beberapa menteri yang diduga melakukan korupsi. KPK juga membidik oknum anggota DPR yang telah diduga melakukan korupsi. Setelah melakukan penyelidikan, para kepala daerah termasuk gubernur, walikota maupun bupati juga terkena bidikan KPK.

Dari segi kriminalitas ternyata naik pesat. Seorang mahasiswa merampok mini market dan dengan beraninya menggasak uang jutaan rupiah. Murid SD merampok alat elektronik di sekolahnya, banyak lagi kasus-kasus seperti itu. Dan kalau ditanya, ”Untuk apa mereka merampok?”. ”Karena tidak bisa membayar uang sekolah dan membiayai hidup”, jawabnya. Menyedihkan memang, bahkan kriminalitas juga sering terjadi di desa-desa yang notabene rawan keamanan, bahkan membuat keonaran di mana-mana.

Menyedihkan dan memprihatinkan, soal mudik saja membawa hampir 1000 nyawa melayang. Meningkat drastis dari tahun yang lalu. Nyawa seakan tidak ada harganya. Meskipun mati hak prerogatif Allah SWT tetapi mungkin saja salah satu korban itu adalah ”calon presiden, calon menteri, calon gubernur, calon bupati atau calon pemimpin masa depan”. Mereka dengan mudah telah direnggut nyawanya oleh motor yang ditumpanginya. Yang jelas, kenapa motor terlalu banyak? Jika perlu stop impor motor. Kembangkan transportasi umum murah, berupa bus, kereta api, kapal laut, kapal udara dan lain-lainnya.

Demikian juga keadaan masyarakat di desa-desa. Mereka diliputi kemiskinan, mereka tak berdaya lagi untuk hidup. Disaat rakyat terlilit oleh kemiskinan, wakil-wakil rakyat di pusat maupun di daerah seenaknya juga menggunakan uang dan menghamburkannya. Hal ini adalah keadaan yang tidak adil. Lebih-lebih ada oknum anggota DPR yang main iklan. Di Thailand seorang perdana menteri main iklan bumbu masak di televisi langsung saja perdana menteri itu dikecam oleh rakyat. Seketika itu juga sang perdana menteri langsung mundur. Di Indonesia lain, makin dikecam, makin merajalela melakukan upaya-upaya untuk menggaruk uang negara. Lihat saja soal Bank Century yang belum selesai, mafia pajak yang belum tuntas dan banyak lagi kasus-kasus yang di petieskan.

Secara moral Indonesia memang belum bisa membangun. Sementara cendekiawan dan tokoh-tokoh serta para ahli mengatakan, ”Indonesia gagal dalam melaksanakan pembangunan kesejahteraan rakyatnya”. Kegagalan itu harus dinilai sebagai suatu ”keruntuhan” pemerintahan. Sementara rakyat mengatakan, ”Yang bertanggung jawab terhadap semua itu, mundur saja dari jabatannya”. Jika perlu kembalikan suasana yang transparan dan terbuka dengan mengedepankan keadilan dan kebenaran. Yang dituntut oleh rakyat adalah rasa keadilan dari semua pihak. Namun seperti yang kita lihat banyak rakyat tertindas oleh sistem pemerintahan. Untuk itu perlu ada upaya untuk mengembalikan nilai-nilai keadilan itu dalam tataran konstitusi yang benar.

Jangan seperti sekarang, yang ”pasti” justru adalah ”ketidak pastian” itu sendiri, yang membuat rakyat makin geram, khususnya rakyat papan bawah. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melindungi rakyat Indonesia dari malapetaka, itulah antara lain doa rakyat miskin. Semoga dikabulkan.