Wednesday, 26 September 2018

Cemburu Kakek Untuk Nenek

Kamis, 6 September 2012 — 8:46 WIB
nah-sub

USIA istri sudah kepala enam kok dicemburui, mau dialap (dimanfaatkan) apanya? Tapi itulah yang terjadi di Magetan (Jatim). Mbah Panuju, 75, marah-marah karena istrinya, Ny. Ngadini, 65, diduga diselingkuhi oleh Marjo, 47, tetangganya. Maka lelaki yang sedang tidur tengkurap itu langsung dibacok hingga masuk rumah sakit!

Kalau cantiknya macam Titik Puspa dan Moryati Sudibyo, meski tua masih perlu disayang dan dicemburui. Tapi jika sudah kampong perot, ngentutan lagi, buat apa sampai diambil cemburu segala. Lelaki cap apapun takkan ada yang mau mengganggu. Maka perbuatan Mbah Panuju yang cemburu buta dengan segala emosinya, banyak tetangga menyebut sebagai lebay.

Apapun alasannya, sebenarnya Mbah Panuju adalah sosok lelaki yang sayang istri. Cintanya selalu menggunung pada bini, hanya rejekinya saja yang tidak juga menumpuk. Buktinya ya itu tadi, dalam usia 65 tahun masih Mbah  Ngadini masih menjadi pembantu di rumah tetangga. Paling bisanya hanya sekedar ngliwet (masak nasi) atau menyapu halaman. Dia memang sudah tidak punya potensi apa-apa, kecuali kalau mau Nyapres. Sebab untuk calon presiden, usia 65 tahun masih dianggap layak.

Keluarga Marjo tetangganya di Desa Sugihwaras Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan, mau mengambil Mbah Ngadini jadi pembantu juga semata-mata karena kasihan saja. Jika motifnya bukan menolong tetangga, pasti mengambil yang lebih muda dan enerjik. Kebetulan pula Mbah Ngadini juga pekerja rajin, datang tepat waktu dan tak pernah mbolos macam anggota DPR Senayan. Jadi Marjo pun tak merasa perlu pasang CCTV segala.

Kenapa Marjo harus ambil pembantu? Lha istrinya ke mana saja? Ini dia; nyonya rumah sejak 6 bulan lalu menjadi TKW luar negeri. Makanya untuk mengurus anak-anak, dia merasa perlu tambahan seorang pembantu di rumahnya. Kebetulan Mbah Ngadini punya waktu, sehingga dialah yang diambil. “Saktekane wae ya mbah, ra sah ngaya (sebisanya saja, tak perlu memaksakan diri),” kata Marjo memberi nasihat.

Tapi niat baik orang kadang tak bisa diterima baik pula oleh pihak lain. Seperti Mbah Panuju ini misalnya, ketika sampai habis magrib istrinya belum pulang, dia lalu berfikir yang enggak-enggak. Diramu dengan berita-berita koran bahwa suami ditinggal jadi TKI suka rakus dan nggragas, dia lalu berpikir negatif bahwa Marjo juga termasuk dari bagian lelaki yang nggeragas gara-gara jauh dari istri.

Dia langsung berburuk sangka bahwa telatnya Mbah Ngadini pulang karena diajak bermesum ria dengan Marjo dulu. Ini sungguh tak masuk akal, karena sehaus-hausnya Marjo sebagai lelaki, dia takkan tega makan nenek-nenek yang sudah perlu diawetkan. Kalau mau, di luar yang pulen dan putih juga masih banyak. Jadi kenapa musti mengambil yang sudah jauh kadaluwarsa?

Tapi Mbah Panuju sudah kehilangan logika. Dia pun membawa bendo dan menyusul ke rumah Marjo. Melihat tuan rumah tidur tengkurap di balai-balai, tanpa ba bi bu langsung main bacok saja tepat pada punggungnya. Tentu saja warga desa geger. Sementara Marjo dilarikan ke RSU Magetan, Mbah Panuju ditangkap dan diserahkan ke Polsek Maospati. Dia harus mempertanggungjawabkan kecemburuannya yang tak masuk akal dan di luar logika.

Bagi Mbah Panuju, masuk akal tak perlu, yang penting jangan masuk sarung. (HS/Gunarso TS)

  • Ruslan

    Ibarat beras bukan hanya kadaluwarsa tapi juga sudah banyak kutunya, ha..ha…ha

    • foke

      doyan juga kamu yang begitu lan?