Friday, 16 November 2018

Musim Kemarau Berkepanjangan

Lahan Hutan Rawan Kebakaran

Kamis, 6 September 2012 — 6:29 WIB
iluslahan

SUKABUMI (Pos Kota) – Memasuki musim kemarau, potensi kebakaran lahan hutan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat cukup tinggi. Pasalnya, pepohonan di hutan mengering sehingga sangat gampang terbakar.

Dari data Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Sukabumi, pada musim kemarau kali ini ada tiga lahan hutan terbakar. Ketiga hutan itu yakni di Gunung Walat, Gunung Salak dan Konservasi Sumberdaya Alam Cikepuh.

Dari hasil pendataan, kebakaran hutan di Gunung Walat seluas 3,7 hektar, di Gunung Halimun Salak seluas 3,5 hektare. Namun luasan lahan hutan di yang dikelola Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Jabar tepatnya di Margasatwa, Cikepuh sampai saat ini masih dalam penghitungan.

Untuk di Sukabumi terdapat dua jenis hutan yakni hutan rakyat dan hutan negara. Hutan negara luasnya mencapai 105.460 hektar terdiri dari 48.100 hektar hutan konservasi, hutan lindung 1.660 hektar dan hutan produksi seluas 55.700 hektar. Sementara hutan rakyat luasnya mencapai 44 ribu hektar.

Kepala Dishutbun Kabupaten Sukabumi, Dadang Budiman menjelaskan kebakaran hutan di wilayahnya tidak begitu luas karena sudah bisa diantisipasi. Dari pemantauannya, kondisi hutan mengering. “Kondisi ini sangat rawan terjadi kebakaran. Untuk mewaspadai kevakaran, kami berkoordinasi dengan para pengelola hutan baik BKSDA, Taman Nasional, Perhutani dan warga yang memanfaatkan hutan untuk ekonomi,” jelasnya.

Sementara itu, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) menutup jalur pendakian. Pertimbangannya, memasuki kemarau di kawasan konservasi ini rawan terjadi kebakaran.

Kepala Balai Besar TNGGP, Agus Wahyudi menjelaskan jangka waktu penutupan jalur pendakian ini belum bisa dipastikan. Soalnya, kondisi saat ini di kawasan pegunungan termasuk di sekitar puncak kedua gunung mengalami kekeringan dan rawan kebakaran,

“Penutupan jalur pendakian ini sebagai langkah antisipasi. Kami khawatir ketika dibuka jalur wisata pendakian ini terjadi kebakaran. Tentu saja biaya rehabilitasi akan lebih mahal,” kata Agus. (sule)