Monday, 19 November 2018

Tidak Memiliki Posisi Tawar

Kemiskinan Melilit Petani Garam

Minggu, 9 September 2012 — 5:51 WIB
iluskemiskinan

INDRAMAYU (Pos Kota) – Kemiskinan masih melilit petani garam di Indramayu, Jawa Barat. Bertahun-tahun, bekerja keras sampai memeras keringat dan terbakar terik matahari akan tetapi kehidupannya seakan tak beranjak maju.

Hasil keringat mereka bekerja di ladang penggaraman itu praktis hanya cukup untuk makan. Nasib mereka cenderung tak berubah. Petani garam di Indramayu yang tersebar di Kecamatan Kandanghaur, Losarang dan Krangkeng tetap miskin.

Hidup miskin, bagi ribuan petani garam di Indramayu sudah biasa. Ibarat perangko dan amplop, senantiasa menempel. Pada masa panen raya seperti pada saat musim kemarau saat ini pun, nasib petani garam di Indramayu tetap tak berubah.

“Hasil keringat bertani garam selama masa panen berlangsung sekitar 4 bulan pada Juli, Agustus, September dan pertengahan Oktober hanya habis buat makan,” kata Karsim, 49.

Kata dia, persoalan pokok yang dihadapi petani garam itu lantaran mereka tidak memiliki posisi tawar. Mereka tidak berdaya. Saat panen raya berlangsung seperti saat ini harga garam membuntutui hokum ekonomi. Dimana stok barang melimpah harga nya akan jatuh.

Sekarang ini harga garam produksi petani di Indramayu hanya laku Rp260 per Kg. Padahal, pemerintah jauh hari sudah menetapkan harga garam kualitas 1 itu sebesar Rp750 per Kg dan harga garam kualitas 2 sebesar Rp450 per Kg.

Petani berharap, ada uluran tangan pemerintah untuk bersama-sama mengatasi ketidakberdayaan para petani garam. Khususnya dalam rangka mengangkat nasib petani garam agar hidup sejahtera.(taryani).-

Teks : Petani garam di Indramayu