Friday, 19 July 2019

Orang Medan Ditakuti di Malaysia

Senin, 10 September 2012 — 8:51 WIB

SEPERTI bunyi lagu ”Semalam Di Malaysia”, penulis baru-baru ini telah mengunjungi beberapa kawasan di Malaysia dengan ”napak tilas”. Kawan-kawan lama banyak yang sudah meninggal karena usia dan mungkin karena sakit. Penulis tak jumpa lagi dengan Datuk Sri Rahmad, mantan Sekjen UMNO, mantan Menpen Malaysia dan mantan Dubes Malaysia di Indonesia, karena sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Secara kekeluargaan kami jumpa dengan anak dan istrinya. Anak pertamanya yaitu Datuk Nur meneruskan cita-cita ayahnya sebagai politisi UMNO.

Orang pertama grup Utusan Melayu, Melan Abdullah telah meninggal dunia. Yang ada adalah regenerasi baru di semua lini, menunjukkan bahwa regenerasi di Malaysia berkembang sangat baik. Penulis sempat napak tilas di kawasan Masjid India maupun ke pasar Petaling. Masih seperti dahulu, tetapi kalah dengan mal-mal dan supermarket-supermarket yang banyak sekali bermunculan.

Perdana Menteri Mahatir Muhammad banyak dikenang masyarakat Malaysia sebagai ”Bapak Pembangunan” di Malaysia. Dengan membangun kawasan Putra Jaya, membangun kawasan Cyber Jaya, membangun Airport yang indah, membangun masjid-masjid tempat ibadah, jalan-jalan diperlebar, monorel, dan kereta api cepat. Demikian juga kawasan pariwisata di Langkawi yang cukup berhasil.

Perkembangan kependudukan juga sangat baik. Bahkan kerukunan antaretnis, baik  keturunan India, China, Melayu berkembang dengan baik. Demikian juga ada perkembangan tenaga-tenaga kerja baru di Nepal, Vietnam, Kamboja dan lain-lain, segala tenaga kerja negara-negara ASEAN ditampung di Malaysia. Hal itu dapat dijumpai di mana-mana, namun paling banyak adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI), ada yang jadi warga negara, ada yang belum. Khususnya di Runcit (toko Mini Market) maupun di Coket (Pasar) banyak dijumpai macam-macam suku bangsa, kebanyakan adalah suku bangsa Indonesia.

Soal makanan tidak perlu dikhawatirkan, menu makanan Padang, masakan Jawa, Soto, Rawon, tinggal pilih. Lebih-lebih di Kampung Pandan, banyak dijumpai makanan-makanan tradisional Indonesia, cuma namanya saja yang beda. Seperti di Indonesia Klepon di sana namanya Buah Malaka, termasuk Nasi Lemak sama dengan Nasi Uduk, banyak juga dijual Nasi Kandar, apalagi Roti Cane dari India semuanya ada. Makanan Thailand, Singapore, Vietnam, Kamboja, Laos, Filipina, Myanmar semua ada di Malaysia.

Baru-baru ini penulis juga napak tilas di Genting Highland, tempat perjudian. Konon dari hasil judi banyak digunakan untuk anggaran pembangunan di Malaysia. Empat puluh tahun yang lalu penulis pernah berkunjung ke Genting, tidak untuk berjudi, hanya melancong saja. Suasana sekarang memang sama dengan dahulu, namun pengunjungnya makin banyak. Di antaranya dari Indonesia, Hongkong, China, India dan lainnya banyak yang datang untuk berjudi. Satu hal yang perlu penulis beritahukan adalah bahwa di Genting, yang ditakuti adalah justru orang Medan. Tetapi bukan karena apa, karena perjudiannya sangat kuat sekali. Kadang-kadang mereka datang dengan pesawat jet pribadi. Mereka ada yang seperti ”Raja”.

Sama dengan di Macao, di Monaco dan lain-lainya. Kebanyakan mereka adalah Etnis China yang judinya sangat kuat sekali. Ketika penulis tanya ”Apakah ada pengaruh dengan adanya pusat Casino di Singapore? Sedikit pengaruhnya,” jawabnya. Mereka lebih senang di Malaysia.*