Friday, 21 September 2018

Oleh S Saiful Rahim

Bukan Pilkadal

Sabtu, 15 September 2012 — 5:51 WIB

SEPERTI lazimnya warung kopi di mana pun di kulit bumi ini, warung Mas Wargo pun selalu menjadi gelanggang orang ngobrol. Akhir-akhir ini yang sering menjadi bahan obrolan selain harga barang-barang di pasar yang terus naik, juga harga mereka yang disebut atau menyebut diri politisi yang terus turun.
“Tanggal 20 nanti mau ada perayaan apa lagi sih?” tanya Mat Benggong yang entah siapa yang mengajaknya ke warung kopi Mas Wargo.

Oleh orangtuanya lelaki itu sebenarnya diberi nama Muhammad. Tentu saja diharapkan sang anak kelak akan seperti Nabi Muhammad Saw. Paling tidak ada salah satu sifat Nabi Besar tersebut yang bisa ditirunya. Tetapi, seperti kata pepatah ‘jauh panggang dari api,’ Muhammad yang satu ini tumbuh dengan otak yang jauh dari sempurna. Agak idiot, kalau kata orang pandai sih. Karena itu orang menyebutnya Mat Benggong. Mat adalah sebutan lazim orang Betawi terhadap orang yang bernama Muhammad. Benggong adalah istilah lain untuk orang yang amat bodoh. Dungu.

Sama dengan Dul Karung. Nama sebenarnya adalah Abdul Ghani, yang artinya senyawa dengan Abdullah yang bermakna hamba Allah. Karena Ghani adalah salah satu dari 99 gelar Allah Swt yang disebut “Asma ulhusna.” Tapi di lidah kebanyakan orang Betawi, Ghani menjadi goni. Karung.
“Bukan perayaan, tapi Pemilukada. Pemilihan Umum Kepala Daerah atau pemilihan gubernur,” kata seseorang yang ada di warung, mencoba menjelaskan.

“Tempo hari kan sudah ada pemilihan gubernur,” kata Mat Benggong.
“Benar. Tapi karena tak ada yang mendapatkan angka kemenangan mutlak, maka pemilihan harus diulang,” jelas Dul Karung dengan benar-benar jelas dan benar.
“Jadi kita harus memilih gubernur lagi?” tanya Mat Benggong.
“Ya betul. Kita memilih gubernur lagi. Bukan walikota, meskipun pemilihan walikota pun disebut Pilkada juga. Dan nanti, setelah berada di bilik pencoblosan, kita harus mencoblos satu saja. Jangan dua. Apalagi tiga,” jelas Dul Karung dengan gaya seperti petugas saja. Dan Mat Benggong pun mengangguk-angguk.
“Kalau begitu sebentar lagi ada kampanye lagi ya. Ada pembagian kaos dan duit. Wah asyik juga tuh,” komentar Mat Benggong dengan mata berbinar-binar.

“Iya. Tapi kau jangan sampai termakan janji-janji kampanye. Lihat dan perhatikan apakah yang dikatakan para juru kampanye dan calon gubernur itu bisa diterima akal sehat? Kalau terlalu percaya pada janji kau bisa dikadalin alias ditipu. Jangan lupa ini Pemilukada, bukan Pemilukadal. Jadi jangan pilih mereka yang bewatak kadal,” kata Dul Karung seraya meninggalkan warung Mas Wargo. Mat Benggong merespons dengan bengong. Dia tidak paham apa yang dikatakan Dul Karung.
“Kalau ada yang memberi kaos bergambar kadal boleh juga tuh,” gumam Mat Benggong sambil mencomot talas goreng.

(syahsr@gmail.com )