Wednesday, 12 December 2018

Pencemaran di Pelabuhan Priok Membahayakan

Minggu, 16 September 2012 — 23:51 WIB
iluspencemaran

JAKARTA (Pos Kota) – Pencemaran laut di kolam Pelabuhan Tanjung Priok, jakarta Utara makin parah, hal ini karena Oknum aparat keamanan di laut dan pelabuhan serta Syahbandar mebiarkan praktek pengumpul limbah liar beroperasi menampung olibekas dari kapal yang sandar di Priok.

Pencemaran di kolam laut Pelabuhan Priok sangat membahayakan keselamatan dan keamanan aktivitas jasa kepelabuhanan.

Humas Pelindo II cabang Pelabuhan Tanjung Priok Sofyan Gumelar mengakui pihaknya udah menyiapan ,fasilitas penanganan limbah kapal atau reception facilities dan kini menganggur, karena belum termanfaatkan optimal oleh pelayaran.

Sesuai dengan Undang-Undang Pelayaran, operator pelabuhan wajib menyediaan alat penampungan libah, namun banyak pihak pelayaran jutru mengganti oli kapal melalui pengepul liar yang tidak memenuhi standar sehingga oli tersebut banyak terbuang di laut.

“Ini udah menyangkut keselamatan pelayaran dan pencemaran laut jadinya Kementerian Perhubungan, harus turun tangan,” jelas Sofjan, Minggu (16/9).

Sofyan mengatakan reception fascilities disiapkan untuk menghindari terjadinya pencemaran perairan dan kolam pelabuhan dari insiden tumpahan minyak/limbah kapal yang keluar masuk pelabuhan.

Dia mengatakan, manajemen Pelabuhan Tanjung Priok sudah berupaya mengajak kembali operator kapal melalui pengelola terminal agar memanfaatkan fasilitas tersebut. “Tetapi hingga kini belum ada perkembangan signifikan. Kami akan terus melakukan upaya-upaya tersebut,” paparnya.

Yang lebih ironisnya, kapal tongkang untuk operasional mengambil limbah milik Pelindo II Tanjung Priok, di tahan aparat keamanan di laut beberap waktu lalu sehigga tidak bisa beroperasi dan justru membiaran pengepul oli kencingan beroperasi bebas di kolam pelabuhan hingga memperoleh keuntungan miliaran rupiah.

Di Tanjung Priok kata Kepala Humas Pelindo II Tanjung Priok, rata-rata arus pergerakan (keluar masuk) kapal mencapai 60 unit/hari.

Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok Sahat Simatupang mengatakan, sesuai aturan International Maritime Organization (IM0), reception facilities disiapkan oleh operator pelabuhan untuk melayani seluruh limbah kapal yang keluar masuk melalui pelabuhan, namun sekarang tidak optimal pemanfaatannya. “-ini ada apa?kita mesti telusuri,” ujarnya.

Dia mengatakan pengawasan kegiatan penanganan limbah kapal di pelabuhan merupakan kewenangan kantor Syahbandar pelabuhan setempat karena hal itu berkaitan dengan faktor keselamatan.

“Limbah itu kan kategori barang beracun dan berbahaya, jadi juga melibatkan instansi lain seperti kementerian lingkungan hidup,” tuturnya.

Dia menyayangkan pelayaran/kapal lebih memilih menjual limbah hasil operasional kapal kepada para pengepul limbah di pelabuhan Tanjung Priok, dengan alasan menghindari biaya penanganan limbah pada fasilitas yang dimiliki operator pelabuhan. (Dwi)

  • http://www.facebook.com/people/Utomo-Prawiro/100000331352018 Utomo Prawiro

    Ancol sangat dekat dengan priuk, jangan sampai pencemarannya ke ancol. bisa sepi ancolnya kala pencemarannya merembet ke ancol karena terbawa arus