Tuesday, 12 December 2017

Besok Pilih Pemimpin

Rabu, 19 September 2012 — 9:11 WIB
Celupkan jari ke tinta TPS1

BESOK  datanglah ke TPS untuk menentukuan perjalanan Kota Jakarta lima tahun mendatang. Seruan itu disampaikan KPUD sebagai penyelenggara pemilihan gubernur-wakil gubernur periode 2012-2017 putaran kedua. Sasarannya adalah penduduk yang punya hak pilih.

Tak ketinggalan, Kementerian Dalam Negeri secara khusus menetapkan Kamis, 20 September 2012, sebagai hari libur pegawai atau karyawan pada instansi pemerintah maupun swasta yang berdomisili di DKI Jakarta. Dikecualikan bagi yang aktivitasnya berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat agar mengatur waktu  sehingga tetap dapat memilih.

Besok itu adalah momentum langka bagi penduduk Jakarta untuk menggunakan kekuasaannya. Coblosan gambar di bilik tempat pemungutan suara (TPS) menjadi bukti keabsahan bagi peraih suara terbanyak untuk menjadi gubernur – wakil gubernur.

Dua pasang calon, Foke – Nara dan Jokowi – Ahok, selama massa kampanye berkompetisi meyakinkan publik  sebagai  calon yang paling cocok untuk dipilih. Apa dan bagaimana hasilnya? Tunggu saja penghitungan perolehan suara bagi keduanya.

Jakarta butuh pemimpin tangguh, berintegritas serta  setia sampai dengan akhir masa jabatannya mendampingi kita  kala senang atau saat berduka.  Untuk itu mumpung masih ada waktu, gunakan akal sehat agar tidak golput serta tidak pula keliru mencoblos.

Secara nasional kemajuan  Jakarta besar dampak positifnya. Saudara-saudara kita di pelosok tanah air,  setidaknya dapat ikut bangga menyaksikan kemajuan ibukota negaranya. Bila kelak terpuruk disebabkan kekeliruan memilih pemimpin yang paling awal kerepotan adalah wong cilik. Cari makan saja bakal  susah.

Jumlah golput atau orang-orang yang tak menggunakan hak pilih pada putaran pertama cukup merisaukan,  ada sekitar 2,7 juta jiwa dari tolal  calon pemilih 6.962.348 orang. Rinciannya sesuai dengan data KPUD sebanyak 4.429.533 orang memilih secara sah. Sebanyak 11. 221 surat suara tidak sah karena rusak atau keliru dicoblos dan 2.716.525 surat suara lainnya masih utuh karena diabaikan golput.

Menurut hemat kita, meski golput adalah hak seseorang tapi tindakannya itu mencerminkan prilaku mau enaknya saja. Hari kerja yang diliburkan justru dimanfaatkan untuk keluar kota atau keperluan lain. Padahal hak pilihnya itu sangat dibutuhkan untuk menjadikan pemilukada yang berkualitas.

Pada putaran kedua ini tidak ada alasan menggap remeh seruan KPUD. Apalagi  tinggal dua dari enam pasang calon yang layak untuk dipilih. Nyok anti-golput. Besok kita coblos nomor urut satu atau nomor tiga!***