Wednesday, 13 December 2017

Saatnya Parpol Mawas Diri

Sabtu, 22 September 2012 — 10:03 WIB

BANYAK pengamat mengatakan bahwa Pemilukada DKI  Jakarta bisa dijadikan  barometer dari Pilpres tahun 2014. Bagi parpol besar tentunya hasil pilgub DKI ini bisa dijadikan momen untuk mawas diri atas berbagai kekurangan dan kelemahan.

Realitas politik memperlihatkan pasangan Cagub dan Cawagub yang didukung banyak partai besar tidak menjamin kemenangan. Kemenangan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dalam berbagai quick count, merupakan bukti partai politik tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam perolehan suara. Memang banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Satu di antaranya karena mesin parpol yang tidak bergerak secara maksimal. Boleh jadi mesin parpol sudah bergerak optimal, tetapi karena warga masyarakat yang sudah mulai tidak percaya kepada janji parpol menjadikan perolehan suara pun tetap tidak terdongkrak.

Kondisi semacam ini setidaknya memberi gambaran bahwa eksistensi parpol di mata masyarakat sudah mulai dipandang sebelah mata. Ini tidak lain di antaranya disebabkan oleh perilaku politisi yang belakangan lebih suka bermanuver untuk kepentingan kelompoknya ketimbang masyarakat.

Belum lagi realita yang memperlihatkan sejumlah oknum parpol yang terlibat suap dan korupsi dengan cara menyalahgunakan kekuasaan dan kewenangannya.

Logika politik pun telah memberi pelajaran kepada kita semua, semakin bersih sebuah parpol maka kian banyak simpatisannnya. Sebaliknya, parpol yang sebelumnya terkenal bersih, dikagumi karena kedekatan dan aspiratif dengan rakyat, mendadak dijauhi, dicaci begitu banyak kadernya terjerat korupsi.

Fenomena yang tercermin melalui hasil pemilukada DKI Jakarta hendaknya menjadi sebuah pelajaran bagi parpol untuk segera merefleksi diri dan merevitalisasi, jika tidak ingin citranya semakin terpuruk. Penataan yang paling mendesak untuk memperbaiki citra adalah segera mengubah politik pencitraan yang penuh retorika menjadi karya nyata prorakyat. Doktrin loyalitas partai tidak harus selamanya dominan dalam semua kebijakan parpol. Loyalitas partai dan prorakyat harus dibuktikan seiring sejalan.

Tahap berikutnya adalah kaderisasi melalui seleksi ketat terhadap anggota dan kader guna menciptakan parpol berkualitas. Tentu kita sepakat kualitas lebih dibutuhkan ketimbang kuantitas. Artinya, sedikit parpol tetapi berkualitas lebih baik ketimbang banyak parpol tetapi tidak berkualitas.

Kehendak ini dapat terwujud sepanjang ada kebijakan radikal dari legislatif dan eksekutif untuk merevisi UU Partai Politik yang didalamnya merujuk kepada upaya pembatasan parpol. (*)

  • ryas rasyid

    Laaaaaahhhh kalo dapet MAHAR dari CAGUB dimakan sendiri, masih printah printah emang kami budak loe, dasar serakah.