Wednesday, 24 April 2019

Hutan dan Jago Merah

Senin, 24 September 2012 — 9:15 WIB

HUTAN adalah merupakan perlambang dari lingkungan hudup sejak zaman dahulukala. Dalam Wayang Beber, Wayang Golek atau Wayang Kulit, dicerminkan oleh “Gunungan”. ltulah sebabnya sejak zaman dahulu hutan selalu dijaga baik oleh mahluk halus maupun mahluk manusia. Dalam kitab Babat Tanah Jawi maupun Serat Centini banyak disebut peranan hutan dikaitkan dengan kehidupan.

Sebagai contoh pada zaman-zaman itu hutan tetap dilestarikan sehingga jumlah hutan dan kawasan yang dihuni manusia lebih banyak hutannya. Dan apa yang terjadi sekarang jumlah hutan makin berkurang dan jumlah kawasan manusia makin bertambah. Contoh di Jakarta, hutan kayu sudah jadi kawasan hunian.

Jika Anda pergi ke Jerman, banyak hutan yang lama dilestarikan dan hutan yang baru dibuat. Karena pemerintah dan masyarakat Jerman menghargai eksistensi hutan dan pepohonan. Jangan coba-coba Anda menabrak pohon di Jerman, pasti di denda banyak, lebih berat hukumannya dari pada menabrak orang. Di Indonesia lain lagi, apalagi menabrak, membabat hutan saja dibiarkan, malah diberi penghargaan. Lain Negara memang lain tata cara. Seharusnya kita mampu memberi makna kepada kelestarian hutan dan pepohonan dalam rangka melestarikan lingkungan hidup.

Hampir setiap tahun, begitu kemarau datang, maka hutanpun terbakar. Si Jago Merah banyak melalap di berbagai daerah. Menurut berita mass media kebakaran itu ada yang disengaja dan ada yang tidak disengaja. Ini menunjukkan “kebodohan” sementara orang Indonesia. Seharusnya kebakaran yang tidak disengaja bisa saja diatasi dengan cara-cara dan teknologi baru. Dan ini dapat diatasi oleh Pemerintah pusat dan Pemda, misalnya sejak dini diantisipasi titik-titik yang diperkirakan rawan kebakaran.

Tetapi yang paling menyedihkan adalah jika hutan dibakar “dengan kesengajaan”. Misalnya sengaja membakar hutan untuk lahan property/perumahan, lahan pertanian dan perladangan. Tapi lebih menyedihkan lagi ada sekelompok orang sengaja membakar hutan dengan tujuan agar hewan-hewan seperti kijang, babi hutan, harimau, kera, monyet dan lainnya turun, saat hewan-hewan itu turun mereka menangkapnya dan menjualnya karena alasan ekonomi. Unsur kesengajaan ini harus ditindak tegas apalagi terhadap mereka yang menggunakan cara-cara demikian untuk kepentigan sesat, yakni memperoleh keuntungan secepatnya.

Konon banyak pengusaha yang membakar hutan untuk perkebunan, baik untuk kelapa sawit maupun usaha lainnya. Dibabatnya hutan, kayunya dijual keluar negeri, keuntungan dari kayu yang dijual dan lahannya untuk perkebunan. Hal yang demikian harus ditegakkan hukum yang tegas, jangan pandang bulu. Dan upaya untuk melestarikan lingkungan hidup harus dikaitkan dengan berbagai aspek Kementerian yang ada. Jika tidak, maka Kementerian Lingkungan Hidup akan menjadi Kementerian yang sangat tidak bermakna. Mungkin programnya ada, tetapi anggarannya tidak ada.

Hal ini harus menjadi perhatian DPR. Tanpa ada kebersamaan pengertian, Si Jago Merah akan melalap tidak saja hutan, tetapi juga toko-toko, rumah-rumah dan kota-kota besar lainnya. Patut kita renungi bersama dan kita agar mencari jalan keluar mengatasi amukan si Jago Merah.*