Friday, 19 April 2019

Diperlukan Diplomat Perjuangan

Kamis, 27 September 2012 — 11:13 WIB

TERTEMBAKNYA WNI di Malaysia merupakan kegagalan Deplu / Kementerian Luar Negeri.  Mengapa gagal? Karena peristiwa itu terjadi sejak bulan Juni, Juli, Agustus dan sekarang September. Keledai saja tidak akan terjerumus tiga kali dalam lubang yang sama. Padahal selama 6 bulan 11 TKI tertembak.

Bung Karno dan Pak Harto pernah menyinggung peran para diplomat kita, agar kita mengembangkan diplomasi perjuangan, bukan diplomasi yang sok-sokan dengan mengedepankan kepentingan-kepentingan yang sempit. Seperti yang telah di alami Dubes Jawoto, duta besar kita di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tahun 60-an, dihina bahkan sampai diludahi. Tiga harus begitu, Bung Kamo agak marah waktu itu. Jadilah Dubes seperti Hanoman,  sebagai duta dalam cerita Ramayana. Diceritakan pada waktu Hanoman ditunjuk oleh Rama sebagai duta dalam misi membantu Rama mencari Sinta.

Hanoman pergi ke Alengka dan mengukur seberapa luas Alengka dan kekuatan prajuritnya. Dalam cerita “Hanoman Duta”. Hanoman tertangkap, tubuhnya yang pendek diludahi oleh Rahwana.  Hanoman tidak menyerah, dengan ekomya Hanoman menyamakan tinggi badannya dengan Rahwana dan meludahi muka Rahwana.  Kita tidak perlu meniru Hanoman, tetapi sikap dan semangat perjuangan Hanoman itulah yang perlu kita jadikan contoh untuk meningkatkan kredibilitas diplomat kita.

Ada baiknya jika pemerintah membentuk diklat khusus untuk mendidik para diplomat kita sebagai diplomat perjuangan, supaya tidak melempem. Untuk tidak melempem perlu ada kaderisasi di Deplu dimana tidak mengembangkan diplomasi yang terpuruk, diplomasi yang nggih-nggih tidak kepanggih dan sebagainya. Untuk itu kita ingat pesan Pak Adam Malik dalam suatu keterangan persnya.

Dikatakan oleh Pak Adam Malik bahwa Indonesia dimasa-masa mendatang memerlukan “diplomat perjuangan” dan “pejuang diplomat”. Ketika ditanya; Apa itu maksudnya ? Beliau menjawab, “Diplomat perjuangan” mampu memahami nilai-nilai perjuangan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu nilai-nilai sejarah perjuangan harus ditanamkan kepada calon-calon diplomat kita. Sedangkan “pejuang diplomat” adalah diplomat yang mampu memperjuangkan dimanapun ia ditugaskan untuk membela kedaulatan Bangsa dan Tanah Air.

Mengenai masalah yang terkait dengan Negara Jiran Malaysia pemerintah harus menyadari  bahwa Malaysia adalah negara yang serumpun dengan kita. Bedanya saat berkembang, melayu digodok dengan British siytem. Sedangkan kita digodak dengan Holland system. Dan dalam British system tentu mental diplomatnya penuh keakraban dan penuh pendekatan, sedangkan Holland atau Belanda system merupakan suatu tindakan yang berorientasi penjajah. Oleh karena itu jika kita berada di luar negeri menghadapi diplomat dari Malaysia, mereka masih muda-muda semua termasuk para duta besarnya. Tetapi dari Indonesia kebanyakan usia lanjut, diplomat-diplomat kita diambang usia lanjut. Oleh karena itu memerlukan kaderisasi dan regenerasi.

Diplomat tidak boleh congkak dan tidak boleh sombong, tetapi diplomat harus mampu menjadi “benteng” kedaulatan Bangsa Indonesia. Untuk itu perlu anggaran yang tidak sedikit dalam membentuk karakter calon-calon diplomat kita. Dari pada anggaran digunakan untuk perjalanan dinas ke luar negeri. Karena pendidikan dan pengkaderan penting untuk membangun karakter dan mental, khususnya para diplomat kita.