Wednesday, 14 November 2018

Pelajar Tawuran Tiru Perilaku Elit Politik

Kamis, 27 September 2012 — 23:37 WIB
bagong279

JAKARTA (Pos Kota) – Perilaku elit negeri yang korup, berkonflik dalam politik dan dipertontonkan di muka umum mempengaruhi perilaku penontonnya termasuk pelajar. Anak usia SMP dan SMA sangat labil dan mudah terpancing bertindak beringas. Para elit negeri ini harus bertanggungjawab, termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang berada di puncak kewenangan dunia pendidikan negeri ini.

Demikian antara lain rangkuman komentar dari berbagai kelompok masyarakat di antaranya Ketua Umum DPP DPP LAKI, H. Burhanuddin Abdullah, Ketua Umum DKN Garda Bangsa Hamif Dhakiri dan pengamat pendidikan Dharmaningtyas.

“Pendidikan di Ibu Kota ini sudah gagal sehingga dengan mudahnya dua pelajar nyawanya melayang hanya dalam dua hari di tangan pelajar juga,” kata Burhanudin Abdullah, kemarin.

Menurut Burhanuddin, pemerintah tidak tegas untuk mengantisipasi tawuran. Dengan tewasnya siswa SMA 6 maupun SMA Yanke para elit pendidikan di negeri ini insyaf, mengaku salah dan mundur. “Tidak hanya kepala sekolahnya, kalau perlu sampai menterinya,” jelasnya. “Anggaran pendidikan itu paling tinggi, kenapa anak didiknya seperti itu.”

Pengamat Pendidikan, Darmaningtyas, menyatakan dengan adanya otonomi daerah, persoalan tawuran pelajar di Jakarta menjadi tanggujawab Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

DIPENGARUHI ELIT

Ketua Umum DKN Garda Bangsa, M. Hanif Dhakiri menilai maraknya aksi tawuran pelajar karena minimnya keteladanan bagi para siswa. “Terlebih elit masyarakat kerap mempertontonkan intoleransi sosial. Sehingga dengan atau tanpa disengaja banyak berpengaruh terhadap aksi brutal para pelajar atau remaja,” papar Hanif.

Aksi kekerasan guru kepada muridnya juga menjadi faktor pemicu peniruan. “Kekerasan yang ditimbulkan akan melahirkan kekerasan berikutnya,” jelas Hanif.

Hanif memaparkan, pelajar SLTP dan SLTA memang sedang mengalami periode yang sangat potensial bermasalah. Mereka sangat mudah tersulut emosinya saat mendapat tekanan jiwa. Karena itu perilakunya mudah menyimpang. Apalagi cengan contoh perilaku menyimpang dari para elit seperti perselisihan, kekerasan politik hingga korupsi.

Karena itu Garda Bangsa menilai para elit elit, tokoh politik dan tokoh masyarakat bertanggung jawab terhadap aksi-aksi tawuran itu. Karena perilaku mereka adalah bagian dari peniruan. “Coba kalau para elit santun akan menjadi contoh bagi mereka,” jelasnya. “Kemdikbud juga harus membuat kebijakan dengan sistem pengawasan intensif untuk mencegah aksi kekerasan di sekolah.” (rizal)

Teks : Pelajar yang dirazia karena mau tawuran rambutnya digunting polisi

  • Anonymous

    trend lempar batu, sebetulnya diperkenalkan pertama kali dan dimasyarakatkan berkat bantuan dari tv swasta nasional, yang terus menerus menayangkan kekerasan jalur gaza palestina. Darah dan kekerasan jadi pembuktian adu nyali. tidak ada sensor demi meraih rating.