Friday, 16 November 2018

Ihwal Modal Amerika

Jumat, 28 September 2012 — 22:22 WIB

“WAH, hari depan Mas bisa suram nih. Madesu, kata anak sekarang. Masa depan suram,” kata Dul Karung seraya duduk di salah satu bagian yang kosong dari bangku panjang yang hanya ada satu di warung Mas Wargo.
Tentu saja, sebagaimana lazimnya orang Betawi, sebelum masuk dia lebih dulu mengucapkan assalamu alaykum.
“Apa maksudmu Dul?”  tanya orang yang duduk di sebelah kiri Dul Karung sebelum Mas Wargo bereaksi.
“Menurut berita yang kubaca di koran, kudengar di radio, dan kutonton di televisi, salah satu sukses dari perjalanan Presiden SBY ke Amerika Serikat adalah menarik minat pemodal AS untuk berinvestasi di negeri kita,” kata Dul Karung dengan lagak sok tahu yang luar biasa.
“Lalu apa hubungannya dengan aku?” tanya Mas Wargo heran.
“Hlo kok malah tanya? Pasti akan ada modal besar yang diserakkan di kaki lima. Mereka akan mendirikan sejenis warung kopi ini dan berbagai jenis warteg yang dipermodern. Semua orang tahu, peredaran uang di warung-warung seperti ini dan aneka warteg cukup besar. Dan, Mas tahu sendirilah, anak-anak muda sangat suka nongkrong di warung yang mereka anggap modern. Tengok saja warung seperti ‘7 Eleven’ itu. Ramainya kayak cap go meh,” kata Dul Karung bagai ekonom kelas satu.
“Apa mereka sanggup berhadapan dengan pelanggan macam kau, yang selalu saja berutang?” kata entah siapa dengan kelakar yang membuat orang yang ada di warung itu tersenyum. Bahkan tertawa.
“Ah, mereka bisa membuang orang macam Dul Karung seperti membuang ingus,” timpal orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang membuat mereka yang semula tersenyum dan tertawa jadi tersentak.
“Tengok saja kasus-kasus kontrak pertambangan, lebih-lebih tambang emas yang aku lupa entah apa namanya di Papua, semuanya mencekik kita. Mereka kan tidak mengenal etika bisnis Pancasila,” kata orang itu lagi dengan penuh nafsu.
“Maksudmu sukses yang diraih Pak SBY di AS itu bisa menjadi malapetaka di Tanah Air?” tanya orang yang duduk selang tiga orang di kanan Dul Karung.
“Apa sih yang tidak bisa menjadi malapetaka di negeri kita? Polisi, jaksa, hakim, anggota DPR, dan menteri, banyak yang jadi koruptor. Apakah itu bukan malapetaka,” sambar Dul Karung seraya melangkah ke luar warung. Setelah jauh di luar warung dia berteriak, “Maksudku oknum, lho.” (syahsr@gmail.com )

  • sseffendi2000@yahoo.com

    YANG PUNYA DUIT DI DUNIA INI ADALAH SATU JAHUDI. KEDUA ARAB KETIGA CHINA. BANGSA LAIN TERMASUK NKRI TINGGAL PILIH SESUAI SELERA DAN KESEMPATAN MASING2. SATU PERUSAHAAN MILIK MEREKA SAJA SDH MENGALAHKAN APBN TIAP TAHUN. NKRI ,SAKING DUITNYA BANYAK,.LALU DI KELOLA ORANG2 PILIHAN DAN PROFESIONAL DARI SEGALA PENJURU BANGSA. BENDERANYA JELAS CARI UNTUNG. RAKYAT NKRI MAU BERSIKAP APA? TERSERAH YANG MIMPIN. YANG JELAS MILIH MANA SAJA BANGSA NKRI HARUS TAHU DIRI.SUMELEH.DAN BERGURU PADA BUNGA TERATAI. AGAR RAKYAT NKRI NGAMBANG TERUS AGAR TETAP HIDUP DAN MENGHIDUPI.N TIDAK BANGKRUT. TIDAK SEPERTI NEGARA EROPA AL ETHIOPIA, CYPRUS, YUNANI, ITALI, PERANCIS, INGGRIS DSBNYA.. HIDUP SESUAI KEMAMPUAN.BELI SESUAI KEBUTUHAN.TETAP MOHON PERLINDUNGAN DAN PERTOLONGAN ALLAH SWT GAR MENJADI ORANG2 YANG BERUNTUNG.SELAMAT DUNIA AKHERAT.