Tuesday, 25 June 2019

Kekerasan Pelajar

Senin, 1 Oktober 2012 — 12:26 WIB

“ANAK NAKAL” adalah biasa, semua pernah jadi anak-anak. Tetapi kenakalan disertai dengan kekerasan dan merusak tidak dibenarkan. Yang terjadi sekarang ini justeru kenakalan anak-anak remaja khususnya para pelajar makin beringas, brutal dan meresahkan masyarakat. Aparat seakan tidak dapat mengatasi, para guru juga demikian, apalagi para orangtua murid. Suatu contoh; Alawy Yusianto Putra, Senin, Tgl 24/9 meninggal dunia akibat keberingasan pelajar. Ironisnya Rabu siang Tgl. 26/9 terjadi tawuran kembali dan menewaskan Deni Januar, padahal pemerintah dan semua pihak sebelumnya telah berkomitmen untuk mengakhiri tawuran. Tetapi sedih dan konyolnya temyata pemerintah tidak bisa mengatasi dan semua pihak diam dan bungkam.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh berkomentar bahwa ini kali terakhir untuk tidak terjadi tawuran lagi, kata Nuh saat jumpa pers. ltu dinyatakan Menteri ketika pasca tawuran Alawy, namun apa lacur, hal tersebut tidak digubris oleh anak-anak, dan terjadi pembunuhan lagi. Seakan Menteri tidak ada wibawa lagi.

Berkali-kali terjadi tawuran di Jakarta maupun di daerah-daerah lain. Untuk itu perlu ada komitmen bersama untuk mengatasi dengan solusi-solusi yang tepat dan jitu, antara lain;

Pertama, hukum harus ditegakkan, sanksi harus diperberat. Ke dua, guru-guru harus tahu persis kondisi siswanya, jika perlu diadakan upaya-upaya untuk meningkatkan prestasi dan kreativitas. Ke tiga, menciptakan guru-guru yang berwibawa, di dengar serta bisa memberi tauladan yang baik bagi para siswa, aturan-aturan sekolah harus tegas, tidak plin-plan dan berpihak kepada kepentingan kejuruan. Yang ke empat, DPR dan Pemerintah pusat khususnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan harus mampu mencari jalan yang tegas, pejabat yang kurang mempu harus mundur, sesuai dengan sikap kesatria. Dan yang ke lima, perlu penambahan terhadap pelajaran nilai-nilai agama untuk membentuk karakter dan moral anak -anak.

Sesuai dengan kedudukan sekolah dan para peserta didik kita, maka perlu ada bantuan dana khusus bagi penegakan disiplin ilmu, mengapa ? Karena kondisi terlalu berat, beban para orangtua dari segi ekonomi, sehingga perlu ada upaya sosial untuk mengatasi hal tersebut. Merubah perilaku sosial siswa yang berat dengan merubah sistem pendidikan yang praktis dan sesuai sasaran. Selama ini para siswa tidak dibebani oleh pelajaran, tetapi justeru dibebani oleh kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler yang berat, misalnya pengerahan massa untuk menjemput tamu-tamu, ini harus dihapus. Zaman dulu boleh, tetapi sekarang tidak bisa lagi. Karena apa? Karena sekarang lebih penting disiplin ilmu.