Tuesday, 25 June 2019

Jokowi dan Foke

Kamis, 4 Oktober 2012 — 9:07 WIB

EFORIA atau hiruk pikuk Pilkada Dki telah usai. Jokowi dinyatakan sebagai pemenang dari Fauzi Bowo (Foke). Dengan rendah hati Jokowi menerima kemenangan dari Foke. Sebaliknya Foke juga secara kesatria dan sportif menyampaikan ucapan “Selamat” kepada Jokowi. Dengan demikian Pemilukada DIG berjalan dengan lancar, tanpa ada halangan suatu apapun. Yang kalah menerima dengan kelegowoan, dan yang menangpun tidak merasa sombong. Rakyat Jakarta telah menentukan pilihannya. Sekarang tinggal mengharap adanya perubahan sesuai dengan janji-janji Jokowi.

Sementara pengamat menyatakan bahwa apa yang dilakukan dua tokoh ini memiliki leadership yang baik. Mengenai Foke juga memberi khasanah yang dingin dan sejuk terhadap suasana di Jakarta. Jokowi tidak mencak-mencak karena kemenangannya dan Foke juga tidak mencak-mencak karena kekalahannya. Hal tersebutlah yang merupakan analisa pengamat bahwa Pemilukada DIG bisa dijadikan contoh untuk pemilu-pemilu daerah serta nasional yang akan datang. Jokowi telah memerintahkan tim suksesnya untuk tidak hura-hura, tetapi lebih banyak bersyukur.

Demikian juga Foke telah memerintahkan tim suksesnya untuk tak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Sekarang tinggal bagaimana melakukan pekerjaan-pekerjaan ke depan. Jokowi dan kru atau timnya kita harapkan mampu mengatasi masalah-masalah tidak ringan yang menjadi problem masyarakat Jakarta.

Dengan rendah hati Jokwi telah menghubungi dan datang ke Foke, dan Foke pun dengan arif menyatakan sangat senang dan akan memberi nasihat-nasihatnya untuk pembangunan Jakarta di masa-masa yang akan datang. Jakarta sebagai ibukota dan barometer bagi pembangunan ke depan dapat dijadikan contoh bagi pemilukada maupun pemilu secara nasional.Jakarta adalah merupakan Indonesia mini. Karena itu penting melihat Jakarta sebagai barometer ke depan. Jakarta mesti memerlukan pendekatan kemakmuran (kesejahteraan) masyarakat maupun pendekatan keamanan yang di dalam bahasa politiknya Jakarta memerlukan “Prosperity approach” dan “Security approach”. Itu sebabnya pendekatan kemakmuran dan kesejahteraan hal yang pokok.

Secara nasional dari Presiden, Menteri, Gubernur, Walikota sampai RW. RT. hidup di Jakarta. Untuk itu perlu perhatian khusus, karena disamping itu juga Jakarta merupakan tempat tinggal para koruptor, pengurus serta pemimpin parpol, bahkan Jakarta juga menjadi pusat pemerintahan dan kenegaraan. Mudah-mudahan dalam era pembaharuan masyarakat Jakarta akan mengalami perubahan. “Hidup lebih baik dari kemarin”. Lebih-lebih tahun 2014 secara nasional Presiden berubah dengan Kabinetnya yang baru sehingga perlu kearifan dan wisdom dari semua pihak