Friday, 19 April 2019

Serbaneka Masakan Indonesia

Senin, 8 Oktober 2012 — 8:46 WIB

INDONESIA tidak punya masalah atau makanan khas Indonesia. Malaysia punya nasi lemak, nasi dagang, sate kajang, dan nasi kandar. Muangthai punya tom yam kuny dan pad thai. Filipina punya balut dan hanggus. India punya Tandowi, masalah dosa, roti cane dan lain-lainnya.

Demikian juga negara-negara maju seperti Prancis, Inggris, Jerman, dan Italia semua punya makanan khas sendiri-sendiri, dinikmati oleh semua orang. Banyak makanan China yang juga dapat dinikmati oleh semua orang. Indonesia tidak memiliki Indonesia Food, yang ada adalah Padang Food, Sunda Food, Solo Food. Di Indonesia ada macam-macam sate, ada sate Padang, sate Madura dan lainnya. Demikian juga soto, ada soto Banjar, soto Kudus, soto Betawi dan lainnya.

Kita punya nasi goring di aku  oleh Singapore. Ada baiknya di adakan suatu eksebisi kuliner untuk Indonesia. Pada tahun 1967 penulis punya kawan dari Rusia, dia senang makan sate, khususnya sate kambing khas Jalan Blora. Begitu dia berada di Padang, pesan makan sate, ternyata kurang cocok, itulah keadaannya. Mengenai kuliner Indonesia susah bersaing dengan manca negara. Ketika di Jepang terkenal makanan sushi, tempura, sukiyaki, misub, semua sama. Mau pesan sub di Kobe maupun di Nagoya semua sama. Begitu juga di Thailand, sub tom yam kuny, semua sama, mau makan di Chiangmai maupun di Bangkok semua sama.

Bagaimana cara mengembangkan masakan Indonesia? Antara lain; Perlu di adakan festival masakan Indonesia di setiap kedutaan (KBRI) dengan tema, Tak kenal maka tak sayang.  Selain di KBRI, juga bekerjasama dengan komunitas-komunitas yang ada di luar negeri serta orang-orang yang paham tentang Indonesia. Sehingga mampu mengembangkan dan memberikan pemahaman dan penjelasan secara transparan. Pelaksanaan harus secara ajek, konsisten dan istiqomah. Jangan seperti sekarang, hanya setahun sekali, sehingga hilang tidak berbekas dalam benak para penggemar masakan Indonesia. Jika perlu juga mengajak para pemilik restoran khsusnya untuk bekerjasama dengan KBRI atau juga bekerjasama dengan para produsen makanan Indonesia.

Hal ini penulis saksikan ketika berada di Bali, ternyata para turis asing lebih senang masakan Bali, Indonesia. Di pelosok-pelosok, baik di Ubud maupun daerah-daerah lain. Masakah Indonesia disenangi turis asing, selain murah juga penuh gizi. Ini menunjukkan bahwa interpreneurship orang Bali mampu mencari peluang pasar. Disamping itu juga masalah yang terkait dengan cita rasa dan tentang masakan perlu ada pengembangan lebih lanjut. Sama dengan di Jogja, orang asing sudah menyukai gudeg. Ini menunjukkan bahwa masakan Jogja (masakan Indonesia) mampu bersaing dengan masakan-masakan luar negeri. Kita juga mampu mengembangkan dan menyayangi masakan Indonesia dengan cara memilih masakan Indonesia.

Malaysia adalah negara yang sangat gencar memasarkan masakannya. Sampai-sampai ada penerbangan MAS yang menyuguhkan masakan sate Kajang untuk setiap penumpang. Lama-lama para penumpang akan mampu menikmati masakan Malaysia itu. Tugas Departemen Pertanian, Departemen Pariwisata, dan Departemen Perdagangan, mencari peluang-peluang untuk mengembangkan masalah kuliner Indonesia. Siapa takut?