Saturday, 22 September 2018

KPI Mengaku Prihatin

Tayangan Televisi Banyak Melanggar

Rabu, 10 Oktober 2012 — 6:38 WIB
ilustayangan

JAKARTA (Pos Kota) – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) prihatin masih banyak tayangan televisi yang melanggar dan tidak sesuai Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) sehingga merugikan masyarakat sebagai penonton. Padahal frekuensi yang digunakan televisi swasta adalah milik publik.

“Stasiun televisi swasta meminjam area publik untuk melakukan siaran. Sayangnya di jam yang banyak ditonton oleh anak sering diisi dengan acara-acara yang melanggar. Banyak tayangan televisi yang bersifat tidak mendidik,” ungkap Komisioner KPI, Nina Mutmainnah Armando di Jakarta, Selasa.

KPI sudah memberikan teguran pada stasiun televisi yang melanggar peraturan. “Jika stasiun televisi tidak mengindahkan sanksi tersebut, maka yang ‘dilukai’ adalah publik,” kata Nina.

Contohnya, acara komedi di salah satu stasiun televisi swasta yang memuat adegan kekerasan seperti memukul dan mendorong.

ADEGAN CIUMAN

Nina juga mengatakan, salah satu acara yang sering diadukan oleh masyarakat adalah sinetron. Jalan cerita sinetron dan isi yang tidak mendidik banyak dikritik oleh masyarakat. “Jika kasusnya seperti ini, yakni banyak pengaduan yang dikirim oleh masyarakat, kami akan menyampaikan kritik masyarakat tersebut kepada stasiun televisi yang bersangkutan,” kata Nina.

Selain program acara televisi, tayangan iklan juga tak luput dari pelanggaran. Ada tayangan-tayangan yang menggambarkan adegan ciuman.

“Jangankan adegan ciuman bibir, adegan yang secara tersirat menggambarkan adegan ciuman bibir saja tidak boleh. Tayangan iklan itu juga muncul di jam-jam anak bisa menonton televisi,” kata perempuan berjilbab tersebut.

Terkait banyaknya masyarakat yang memprotes adegan kekerasan film di layar kaca, pihak Trans TV yang sering menayangkan program Bioskop Indonesia menyatakan pihaknya telah melakukan sensor yang ketat di dalam internal produksinya.

“Kami selalu memberikan arahan terutama bagian produksi dan editing atau divisi sensor agar menghilangkan adegan kekerasan. Bahkan setiap bagian produksi selalu kami berikan aturan tertulis dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar tidak dilanggar,” tutur A. Hadiansya Lubis, Kepala Humas Trans TV, pada Pos Kota, kemarin.

Terkait film laga yang menayangkan kekerasan baik itu film dalam negeri maupun luar negri, pihak Trans TV, melakukan sensor hingga berulang-ulang.

“Minimal tiga kali sensor sebelum tayang, setelah itu juga kami memberikan petunjuk secara tertulis di layar kaca seperti kata-kata ‘Jangan Ditiru Adegan Berbahaya’ dan penulisan tayangan untuk Remaja, Bimbingan Orang Tua dan Dewasa,” tandasnya.

BATASAN USIA

Manager Humas Antv, Yasmin Sanad, menegaskan tak ada program yang ditayangkan menyuguhkan adegan-adegan yang penuh dengan kekerasan.

“Di Antv terdapat tim internal sensor yang tugasnya untuk memastikan tidak ada adegan-adegan kekerasan dalam setiap program. Semua program kami sudah melewati proses LSF. Dan, meskipun program kami sudah melewati LSF alias lulus sensor, tetapi tim internal kami tetap memonitoring dan memeriksanya kembali,” jelas Yasmin, kemarin. (aby/anggara/mia)