Sabtu, 13 Oktober 2012 — 8:07 WIB

Awasi dan Perketat Izin Penggunaan Senjata Api

AKSI bak koboi jalanan terjadi di lampu merah Meruya, Jakarta Barat, Jumat (12/10) pagi. Seseorang bercelana pendek menembak Zaenal Abidin,27, petugas pemadam kebakaran Jakarta Barat.

Diduga pelaku tersinggung karena ditegur korban agar mematuhi lalulintas. Belum diketahui pasti apakah sebelumnya keduanya yang sama – sama mengendari sepeda motor sempat bersenggolan.

Yang pasti, peristiwa ini menambah panjang daftar aksi lepas tembakan di jalan  raya. Sebelumnya sempat heboh  aksi “Koboi Palmerah” pada Senin, 30 April 2012. Sepekan kemudian , Jumat 4 Mei 2012, sebuah mobil Toyota Avanza berwarna hitam memepet  Toyota Land Cruiser di Jalan Kapten Tendean, Kompleks Hergamanah, Bandung. Empat tembakan dilepaskan dari dalam pengemudi Avanza, di antaranya peluru bersarang di tubuh pengemudi Land Cruiser.

Masih banyak lagi aksi bak koboi jalanan di sejumlah daerah yang dipertontonkan di depan umum.

Data Polri menyebutkan sepanjang tahun 2009 hingga tahun 2011 kepolisian telah menangani 453 kasus penggunaan senjata api ilegal. Sementara tidak kurang dari 40 kasus penyalahgunaan senjata api baik oleh aparat maupun warga sipil terjadi sepanjang tujuh tahun terakhir.

Kita bisa menduga merebaknya kasus penyalahgunaan senjata api baik oleh aparat maupun warga sipil disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, lemahnya pengaturan tentang senjata api itu sendiri. Pengaturan senjata api masih cukup longgar dan terkesan tumpang tindih.

Kedua, masih lemahnya pengawasan terhadap peredaran dan penggunaan senjata api.

Ketiga,  masih rendahnya hukuman bagi pelaku penyalahgunaan senjata api.

Keempat, bisnis peredaran senjata api dinilai menggiurkan sehingga mendorong sejumlah orang untuk melakukan transaksi secara ilegal.

Melihat begitu kompleksnya penyalahgunaan senjata api, maka solusi yang dibangun tidak sebatas melakukan razia terhadap penggunaan senjata api ilegal dan memperketat perizinan penggunaan senjata api. Yang lebih utama adalah menyiapkan perangkat hukum sehingga tidak lagi terjadi tumpang tindih dalam penegakan hukum.

Sebab, belum adanya sanksi hukum yang berat dan mampu memberikan efek kejeraan, maka bisnis senjata api ilegal dan penyalahgunaan senjata api dikhawatirkan akan terus marak.

Sebelum terbentuknya peraturan perundangan yang mampu mengontrol secara ketat penggunaan dan peredaran senjata api, untuk tahap awal bisa memperketat penggunaan senjata api.

Di antaranya menarik senjata api dari warga sipil, kecuali untuk keperluan olahraga. (*)


Induk

Selasa, 19 Mei 2015 — 6:13 WIB
Berpacu Melawan Korupsi
Senin, 18 Mei 2015 — 5:56 WIB
Jangan Ada Lagi Ada Polisi Mati Sia sia
Jumat, 15 Mei 2015 — 6:06 WIB
Negara Belum Maksimal Melindungi Anak
Rabu, 13 Mei 2015 — 6:12 WIB
Islah, Jalan Golkar Menuju Pilkada
Selasa, 12 Mei 2015 — 5:55 WIB
Memanusiakan Pejalan Kaki

Kopi Pagi

Senin, 18 Mei 2015 — 5:55 WIB
Conditio Sine Quanon
Senin, 11 Mei 2015 — 6:09 WIB
Nama Diri
Kamis, 7 Mei 2015 — 6:07 WIB
Cetak Sawah Baru
Senin, 4 Mei 2015 — 6:03 WIB
Buruh dan Kepastian
Kamis, 30 April 2015 — 6:12 WIB
Pendidikan Moral Pancasila

Bang Oji

Selasa, 19 Mei 2015 — 6:13 WIB
Dibikin Cantik
Selasa, 12 Mei 2015 — 6:00 WIB
Apa Iya?
Selasa, 5 Mei 2015 — 5:58 WIB
Badai Apa Lagi?
Selasa, 28 April 2015 — 5:55 WIB
Cepat Diangkut
Selasa, 21 April 2015 — 5:44 WIB
Pakai Bus Pariwisata

Ekonomi Rakyat

Selasa, 8 April 2014 — 2:18 WIB
Menghitung
Selasa, 18 Februari 2014 — 13:35 WIB
Irit Listrik
Rabu, 15 Januari 2014 — 9:33 WIB
Maju Dengan Tempe
Selasa, 31 Desember 2013 — 9:50 WIB
Carmat Namanya…
Jumat, 4 Oktober 2013 — 9:53 WIB
Mudik dan PKL

Dul Karung

Jumat, 15 Mei 2015 — 6:07 WIB
Jadi Pemimpin itu Susah
Sabtu, 9 Mei 2015 — 5:28 WIB
Tempat Meninggal
Sabtu, 2 Mei 2015 — 6:16 WIB
Urunan dan Utang
Sabtu, 25 April 2015 — 5:59 WIB
Turun dan Naik
Sabtu, 18 April 2015 — 5:45 WIB
Akhirnya Polisi Punya Kepala