Senin, 15 Oktober 2012 — 11:06 WIB

Lagu-Lagu Perjuangan

SIARAN televisi mengandung cita-cita perjuangan serta lagu-lagu perjuangan sering berkumandang, utamanya dalam merakayan Proklamasi Kemerdekaan RI. Kita menyampaikan rasa salut kepada pencipta lagu-lagu perjuangan.

Wage Rudolf Supratman, pencipta Lagu Indonesia Raya, beliau meninggal sebelum lagu itu dikumandangkan. Beliau meninggal pada tahun 1938, tujuh tahun sebelum Indonesia merdeka. Lagu tersebut kini telah menjadi semacam roh untuk mengisi kemerdekaan.

Banyak juga seniman yang menciptakan lagu perjuangan seperti misalnya, Ismail Marzuki, Maladi yang menggunakan nama samaran Alimah dan lain-lain. Ada baiknya lagu-lagu tersebut di aransir kembali dengan nada dan irama yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Radio dan televisi juga harus mampu mengumandangkan terus lagu-lagu perjuangan bernuansa tradisional tersebut untuk memberi makna dan mengingat kembali perjuangan masa lalu. Merujuk kepada perjuangan yang ada kaitannya dengan publik misalnya. Masalah lagu perjuangan dalam bidang transportasi berkumandang terus melalui pemutaran lagu-lagu.

Contoh, kita salut kepada Garuda Indonesia Airwais dimana penerbangan dalam dan luar negeri terus mengumandangkan lagu-lagu perjuangan dengan aransemen baru ketika pesawat akan take off dan setelah landing.

Sekali lagi kepada manajemen Garuda Indonesia kita berikan pujian untuk itu. Mudah-mudahan hal ini diteruskan dan dikembangkan lagi. Tahun-tahun sebelumnya yang dikumandangkan lagu-lagu pop, rock dan lain-lain.

Demikian juga lagu-lagu yang mengandung nilai-nilai moral. Kita harapkan penerbangan lainnya baik domestik maupun internasional meniru seperti Garuda yaitu memutar lagu-lagu perjuangan dan sesuai dengan kadar perjuangannya dan dengan aransemen baru.

Maaf yang tidak terpuji dari Garuda adalah pelayanan kedantangan di Bandara Soekarno-Hatta yang seharusnya memakai belalai gajah, penumpang disuruh jalan kaki dan naik bus. Tolong dibenahi hal ini. Malu kita terhadap turis-turis asing.

Penulis mengusulkan untuk daerah penerbangan Jawa bisa dikumandangkan lagu-lagu keroncong dan lain-lain. Demikian juga untuk penerbangan di daerah Sumatera misalnya, bisa dikumandangkan lagu-lagu Batak: Lagu Sing Sing So, Lagu Butet, Situmorang atau lagu Aceh: Bunga Cempaka, lagu-lagu Melayu yang banyak ragamnya atau lagu Palembang: Lagu Kabila-bila, lagu Minang dan banyak lagi yang enak didengar dan enak diresapi makna dan isinya.

Untuk Indonesia bagian timur banyak lagu Ambon dan Manado yang bisa diputar termasuk lagu-lagu Bugis, apakah itu Lagu Angin Mamiri atau Lagu Ati Raja dan lain-lainnya. Demikian juga untuk daerah Bali, NTB, NTT dan Papua punya nuansa baru dalam perkembangan lagu-lagu tradisional.

Sebaiknya untuk penerbangan domestik juga memberikan cinderamata asal daerah tujuan kepada para penumpang. Dibagikannya sesaat sebelum pesawat mendarat. Dampak ikutannya, pasti akan memberi nilai tambah bagi pengrajin daerah. Hal itu juga bisa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan bus, kereta api dan lain-lainnya.

Janganlah rakyat kita dicekoki lagu-lagu ”cengeng”, ”ngak-ngik-ngok”, lagu-lagu ala barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral budaya bangsa.*


Induk

Jumat, 28 Agustus 2015 — 5:15 WIB
Pekerja & Penjahat Asing, Serbu Indonesia
Kamis, 27 Agustus 2015 — 5:21 WIB
Solidaritas Hadapi Krisis
Rabu, 26 Agustus 2015 — 5:37 WIB
Bersama Berantas Korupsi Bukan Sebatas Janji
Selasa, 25 Agustus 2015 — 5:44 WIB
Ledakan Pengangguran di Depan Mata
Senin, 24 Agustus 2015 — 5:35 WIB
Jangan Rendahkan Harga Diri bangsa

Kopi Pagi

Kamis, 27 Agustus 2015 — 5:21 WIB
Rembuk Ekonomi Nasional
Senin, 24 Agustus 2015 — 5:30 WIB
Revolusi Komunikasi
Kamis, 13 Agustus 2015 — 5:20 WIB
Momok MOS
Senin, 10 Agustus 2015 — 5:25 WIB
Dilema Pilkada
Kamis, 6 Agustus 2015 — 5:18 WIB
Kurs dan Pemerintah

Bang Oji

Rabu, 26 Agustus 2015 — 5:36 WIB
Insentif PBB
Rabu, 19 Agustus 2015 — 6:21 WIB
Kok mau Kalah?
Rabu, 12 Agustus 2015 — 5:33 WIB
Tertibkan
Rabu, 29 Juli 2015 — 5:09 WIB
Apa Bisa ?
Rabu, 22 Juli 2015 — 6:36 WIB
Untung Masih Untung

Ekonomi Rakyat

Selasa, 8 April 2014 — 2:18 WIB
Menghitung
Selasa, 18 Februari 2014 — 13:35 WIB
Irit Listrik
Rabu, 15 Januari 2014 — 9:33 WIB
Maju Dengan Tempe
Selasa, 31 Desember 2013 — 9:50 WIB
Carmat Namanya…
Jumat, 4 Oktober 2013 — 9:53 WIB
Mudik dan PKL

Dul Karung

Sabtu, 15 Agustus 2015 — 6:29 WIB
Pidato dan Kerja
Sabtu, 8 Agustus 2015 — 3:44 WIB
Bela Koruptor? Haram!
Sabtu, 25 Juli 2015 — 6:23 WIB
Sumber Daya Otak
Sabtu, 4 Juli 2015 — 6:01 WIB
Mobil Dinas Bukan Mobil Dinasti
Sabtu, 27 Juni 2015 — 6:05 WIB
Bisa gak Lebaran, nih.