Tidak Mudah Silau

Jumat, 19 Oktober 2012
Tidak Mudah Silau

Oleh S. Saiful Rahim

“WAH, jangan dekat-dekatlah kau. Aku paling tidak suka sakit mata,” kata seseorang yang entah siapa seraya menggeser duduknya, menjauh dari pintu ketika melihat Dul Karung masuk ke warung Mas Wargo.

Tidak seperti biasanya, kali ini Dul Karung mengenakan kaca mata besar yang sudah tertinggal zaman.

“Kau salah terka, si Dul bukan sakit mata. Dia ingin bergaya masa muda dulu. Pada pertengahan tahun 1950-an, kaca mata Rayban besar dengan warna hijau muda seperti yang dipakai si Dul itu sangat modis. Biasanya dikenakan oleh perwira-perwira muda AURI yang sekarang disebut TNI-AU itu. Kalian tahu, dulu itu, kalau ada pemuda dengan perawakan tinggi, atletis, berkaca mata seperti yang dikenakan Dul Karung itu, gadis-gadis akan berolah gaya menarik perhatian,” komentar Mas Wargo, orang yang tertua di antara mereka yang ada di warung.

“Tapi sekarang kaca mata seperti itu sudah ketinggalan zaman. Lagi pula TNI-AU sedang mendapat sorotan negatif gara-gara ada oknum perwiranya yang memukuli wartawan secara sadistis,” tanggap orang yang entah siapa, yang tadi menggeser duduknya itu.

“Alah, kalian semua sok tahu,” potong Dul Karung seraya duduk di salah satu bagian yang kosong dari bangku panjang yang hanya satu di warung kopi itu.

“Aku tidak sakit mata, dan bukan sedang bernostalgia masa muda ketika aku banyak dilirik cewek-cewek remaja. Aku hanya ingin seperti Deddy Mizwar, tidak gampang silau,” sambung Dul Karung seraya melepas kaca matanya, dan mencomot sepotong singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Ah, omonganmu susah ditafsir, Dul. Di dalam warung kok takut silau,” kata Mas Wargo dengan nada sedikit tersinggung.

“Lagi pula apa hubungannya silau dengan Deddy Mizwar?” sambung orang yang duduk tepat di kiri Dul Karung.

“Nah, ini contoh orang yang tertinggal zaman,” kata Dul Karung seraya menunjuk orang yang duduk di sebelah kirinya, dan kembali mengenakan kaca mata besarnya.

“Kalian tahu, di tengah zaman artis berebut mengejar jabatan di legislatif maupun di eksekutif, Deddy menolak tawaran menjadi calon Wakil Gubernur Jawa Barat. Dengan elegan Deddy berkata bahwa dia merasa belum berbuat apa-apa untuk Jawa Barat, jadi terlalu terhormat bila dia dicalonkan menjadi Wagub. Itu sikap yang luar biasa dari seorang artis.

Sebagai orang yang sangat terbiasa berhadapan dengan lampu kamera yang berkilau-kilau, dia tidak mudah silau. Juga terhadap jabatan. Padahal, mentang-mentang ada kiasan yang mengatakan “dunia ini hanya panggung sandiwara,” banyak artis yang berpikir akan mampu bersandiwara di mana saja,” sambung Dul Karung  seraya meninggalkan warung sebelum ada orang yang membantah pendapatnya. ( syahsr@gmail.com )

Tentang Kami

Poskota

Poskota, Poskotanews, Poskota Online adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT. Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.