Kamis, 1 November 2012 00:29:34 WIB

Ribuan Dimiliki Perorangan

Taksi Digunakan Merampok Sulit Dideteksi

ilustaksi

JAKARTA (Pos Kota) – Ribuan taksi di ibukota ditengarai milik perorangan atas nama perusahaan sehingga sulit mengawasi jika terjadi tindak kejahatan.

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Inggard Joshua, mendesak pemprov membekukan perizinan taksi milik pribadi tersebut. “Ini tidak boleh terjadi. Mestinya pemprov harus tegas. Taksi sebagi angkutan umum harus dikelola perusahaan sehingga mudah diawasi,” katanya, Rabu (31/10).

Menurut Inggard, taksi milik perorangan tidak memiliki pool sehingga sulit dikontrol karena selesai operasi dibawa ke rumah masing-masing. “Saya yakin, waktu pengajuan izin atas nama perusahaan karena salah satu syaratnya harus memiliki pool. Begitu izin keluar dikelola perorangan. Ini harus ditindak tegas.”

KESULITAN

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, mengatakan, pihaknya juga kesulitan menindak taksi-taksi yang melanggar perizinan. Sebab, sebagian taksi yang beroperasi di Jakarta, izinnya dari sejumlah pemerintah daerah. Seperti Tangerang, Depok dan Bekasi.

Namun, taksi dengan perizinan di Jakarta akan terus diawasi dengan ketat. “Bila melanggar tentu saja akan tindak tegas sampai pada pencabutan izin,” jelas Pristono.

Ketua Organda DKI, Sudirman, mengatakan jumlah taksi di Jakarta lebih dari 25 ribu unit. Pihaknya tengah melakukan pendataan puluhan perusahaan taksi yang beroperasi di ibukota.

BERITA ACARA

Diberitakan sebelumnya, Ratna Komalasari, 34, korban perampokan sopir taksi mendatangi Polres Jakarta Selatan, Rabu (31/10) siang. Wanita berkulit putih itu mengaku masih trauma.

“Saat ini, saya tidak berani naik angkutan umum saat berpergian,” katanya ketika dimintai keterangan untuk melengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terkait kasus yang menimpanya.

Menurut Ratna, dia sering pulang malam, lantaran kerja dan kuliah. Setelah musibah menimpanya di depan McDonald Pondok Indah (Pos Kota, 31/10), setiap pergi meminta koleganya mengantar. “Saya berharap tidak ada lagi korban perampokan seperti ini lagi,” ungkap warga Gandaria itu.

Dalam perampokan tersebut Ratna dipukul dan kehilangan uang Rp6 juta, perhiasan dan tiga HP. (john/tiyo)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.