Wednesday, 19 September 2018

Beban Hidup Kian Berat,Banyak Warga Kena Gangguan Jiwa

Minggu, 18 November 2012 — 10:17 WIB
psikotropika

KEBAYORAN BARU (Pos Kota) – Ibukota lebih kejam dari ibu tiri. Beban hidup yang kian berat di Ibukota menyebabkan mental sebagian masyarakat rontok. Tak kuat menanggung himpitan hidup, penderita gangguan kejiwaan (psikotik) terus melesat termasuk di Jakarta Selatan.

“Persoalan ekonomi terus membebani masyarakat. Ironinya faktor kejiwaan dan keagamaan kini semakin tak mendukung sehingga ‘pertahanan’ jiwa akhirnya jebol,” ujar Kasudin Sosial Jaksel, Abdurrahman Anwar, Minggu (18/11).

Kondisi ini terlihat dari kian banyaknya penderita psikotik yang berkeliaran di Jaksel. Sebagian kondisinya memprihatinkan karena ada yang tanpa berpakaian maupun mengamuk sehingga kerap mengganggu ketertiban umum.

Dalam setiap razia yang dilakukan petugas Sudin Sosial Jaksel lazimnya menjaring 2 hingga 3 penderita psikotik dan dikirim ke panti dan rumah sakit jiwa untuk dirawat.

“Keluarga sangat berperan dalam proses penyembuhan supaya penderita psikotik tidak lagi luntang-lantung di jalanan,” ujarnya.

Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial (RTS) Sudin Sosial Jaksel, Miftahul Huda menjelaskan hingga Oktober 2012 pihaknya menjaring 94 penderita psikotik dari total 885 penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Jumlah psikotik yang terjaring ini meningkat sekitar 20 persen dibanding 2011.

Penderita psikotik itu dikirim ke sejumlah panti seperti panti sosial bina laras harapan sentosa di Cengkareng, Daan Mogot, Cipayung dan Ceger, Jaktim.

“Bagi penderita psikotik dengan kondisi kejiwaan yang serius dirujuk ke RS Duren Sawit untuk pengobatan intensif,” katanya.

Sayangnya diakui Miftahul, begitu keluar dari panti maupun rumah sakit, sebagian pengidap Stress itu kembali ke jalanan karena tidak diterima lagi oleh keluarganya.

Di sisi lain, selain aktif merazia penderita gangguan kejiwaan, Sudin Sosial Jaksel juga kerap menerima pasien dari pihak keluarga yang tak lagi mampu merawat anggota keluarganya itu. Terutama keluarga miskin mengingat pengobatan harus seumur hidup dan lumayan mahal.

“Sekitar 10-an penderita diantar keluarga ataupun minta dijemput petugas ke rumah untuk dirawat di panti dan rumah sakit,” urai Miftahul.

 

(Rachmi)

Teks foto: Kasi Rehabilitasi Sosial Sudin Sosial Jaksel, Miftahul Huda (kanan) menjaring penderita psikotik yang berkeliaran di jalan. (Rachmi)