Monday, 19 November 2018

BB Hilang, Anggota DPRD Aniaya Bocah hingga Berdarah

Senin, 26 November 2012 — 1:12 WIB
Hold BB-n

LAMPUNG (Pos Kota) – Gara-gara handphone Black Berry-nya dicuri teman anaknya yang datang ke rumah, oknum anggota DII DPRD provinsi Lampung , Watiah , 39, memukuli bocah 11 tahun, teman anaknya dengan sepatu hak tinggi hingga kepala  bocor , Sabtu (24/11) sekitar pukul 10.00 WIB.

Tak menerima penganiayaan itu, keluarga  korban  Arya Nugroho , 11, pelajar kelas VI SD N Jagabayayang melapor ke Polresta Bandarlampung, dan membawa masalah itu ke ranah hukum. Sebelumnya korban dilarikan ke rumah sakit dan mendapat  jahitan 2 centimeter,

Timbul Priyadi ,35, kuasa hukum  mengatakan,  seharusnya selaku anggota DPRD, pelaku  tidak seharusnya melakukan pemukulan terhadap anak-anak. Apalagi yang dipukul bagian  kepala menggunakan sepatu hak tinggi yang mengakibatkan kepala korban terluka.

“Kami sudah laporkan Watiah dan membawa visum ke Polresta Bandarlampung dengan nomor laporan LP/B-5089/XI/2012 tanggal 24 November 2012,” ujar Timbul.

Menurut penuturan teman-teman korban, sehari sebelumnya ( Jum’at, 23/11)  korban mendatangi  Gaffa (anak pelaku Watiah) warga Jagabaya, Tanjungkarang Timur, Bandarlampung, bersama 2 teman sekolahnya untuk bermain.

Saat asyik main itu, korban yang melihat ada HP Black Berry di meja langsung mengambilnya. Watiah yang  menyadari kehilangan HPnya  langsung mengintrogasi teman-teman anaknya dan korban yang mengaku mengambilnya langsung mengembalikan HP tersebut.

Saat itulah emosi politisi dari fraksi partai Gerindra  meluap. Pelaku langsung  memukuli korban.  Mula-mula dengan tangan. Namun  belum puas kembali memukuli  lagi menggunakan sepatu hak tinggi hingga kepala korban berdarah.

Orang tua korban yang tahu anaknya dipukul hingga luka,  melapor kejadian itu  ke Polresta, setelahterlebih dulu  mengobati anaknya.

Kapolresta Bandarlampung, Kombes. M. Nurochman membenarakan adanya laporan penganiayaan terhadap anak dibawah umur oleh anggota dewan.

“Kami masih melakukan penyelidikan terkait laporan ini dan jika terbukti akan kami kenakan Undang-undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, “ujar Kapolesta. (Koesma/dms)

  • prihatin

    di bbnya ada apa ya? sampai emosi ga benar begitu?
    ada p*rn* ya kali ya… ? menduga-duga….
    toh udah dikembalikan…..
    jangan sampai Watiah ini terpilih….

  • dewa chinta

    Watiah-Watiah… Lanjutkan !!!!

  • Eichel

    Kedua-duanya jelas salah, si Anak walaupun masih kecil sudah punya pikiran untuk menguasai barang milik orang lain, sedangkan si Ibu walaupun sudah dewasa tidak bisa mengendalikan emosi dan membimbing anaknya agar berprilaku lebih baik.