Tuesday, 23 July 2019

Asmara Maut Bu Guru PAUD

Selasa, 11 Desember 2012 — 11:48 WIB
nah-sub

TEGA BENAR Bu Guru Nurul, 32, ini. Sementara suami jualan bakso di Pekanbaru, dia di Wonogiri malah punya gendakan. Paling menyakitkan bagi Hasto, 37, suaminya; saat pulang kampung justru mendapatkan istrinya yang guru PAUD sedang hyang-hyangan dengan PIL-nya. Maka tak ada kata lain kecuali: cerai!

Rumahtangga paling ideal memang harus sama-sama dalam satu rumah dan satu ranjang. Tapi karena kondisi ekonomi, banyak juga pasangan yang satu sama lain berjauhan. Ada yang seminggu sekali baru ketemu, sebulan, bahkan 6 bulan. Nah yang begini ini yang menjadi rawan perselingkuhan. Tak tahan berlama-lama “gencatan senjata”, banyak pasangan yang nembaki atau mau ditembaki pihak lain.

Pasangan Hasto – Nurul termasuk yang begini ini. Katanya suami istri, tapi domisilinya dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer. Istri menjadi guru Pendidikan Usia Dini (PAUD) di   Ngadirojo, Wonogiri, sedangkan suami jualan bakso ting ting di Pekan Baru (Riau). Enam bulan sekali Hasto baru mampu pulang kampung, dalam rangka setor benggol dan bonggol. Di Wonogiri seminggu, balik lagi ke Pekan Baru dengan wajah ceria. Maklum, ibarat keris kan baru diwarangi dan dimandikan.

Hasto menerima dengan kondisi itu, tapi Nurul tidak demikian. Sering kesepian jauh dari suami, dia lalu terpikat dengan lelaki lain yang kemudian meningkat jadi PIL. Lelaki bernama Agus, 34, ini memang status sosialnya lebih bagus, jadi PNS yang ber-NIP, dengan golokan II-d. Sedangkan suaminya, pedagang bakso keliling, paling-paling golongannya Golongan Karya, itu pun kalau mau masuk partai.

Bersama Agus, memang semuanya bisa, termasuk bisa masuk hotel. Laki-laki bawa perempuan bukan muhrim masuk hotel mau apa lagi? Dan itulah yang terjadi. Di Pekan Baru suaminya jualan bakso, dia di hotel menikmati “bakso” Agus yang tanpa thethelan dan mie. Sungguhpun demikian Nurul menikmati dengan penuh penghayatan, hingga merem melek dan megap-megap, tapi bukan kepedesan.

Begitu lengketnya hubungan Nurul – Agus, sampai para orangtua murid PAUD itu tahu juga asmara maut keduanya. Tapi bisa apa, kecuali sekedar menyayangkan. Untuk menasihati, mereka kan bukan dalam posisi sebagai penasihat. Sebagai walimurid mereka juga tak mau dituduh suka campur tangan urusan orang.

Begitulah yang terjadi, sampai kemudian Hasto pulang dari Pekan Baru. Tapi tiba di rumahnya Ngadirojo, istri sedang tidak di rumah. Bukan karena sedang mengajar, tapi sedang jalan-jalan dengan  PIL-nya. Dan betapa kecewanya Hasto, ketika ketemu Nurul justru dia minta cerai. “Mas, aku pegaten wae, aku ora cocok dadi bojo sampeyan (ceraikan saja aku Mas, aku tak cocok jadi istrimu),” kata Nurul serius.

Sejak dari Pekan Baru Hasto sudah membayangkan ketemu istri bisa kangen-kangenan sepuas mungkin. Ternyata, istrinya sudah diserobot lelaki lain. Karena menyadari bahwa tak bisa membahagiakan istri, Hasto terpaksa menyetujui permintaan Nurul. Dia pun berjanji, besuk sama-sama ke Pengadilan Agama Wonogiri untuk pecah kongsi dan menghentikan koalisi selama ini.

Habis cerai, kawin dengan sinden, sini kan gudangnya. (SP/Gunarso TS)

  • foke

    nurul dalam cerita ini adalah salah satu contoh istri yang tidak sabar dengan keadaan suami.

  • jono

    semoga wanita seperti contoh di atas akan dilaknat oleh Allah… krn hanya mementingkan syhwat saja, tdk menghargai suami…

  • irvan sugiantoi

    Wanita ngak tau diri tu

  • BEzzz

    “dia di hotel menikmati “bakso” Agus yang tanpa thethelan dan mie.
    Sungguhpun demikian Nurul menikmati dengan penuh penghayatan, hingga
    merem melek dan megap-megap, tapi bukan kepedesan.” wkwkwkwkk…ngakak sambil guling2 baca beritanya

  • http://facebook.com/acie323 Rasyid Remmang

    Waduuuuhhhhh