Thursday, 20 September 2018

Problematika Masjid di Inggris

Rabu, 12 Desember 2012 — 17:19 WIB
The East London Mosque

LONDON – Di Inggris, Sebagian besar sekitar 1.200 masjid yang ada di negeri Inggris mengadakan khotbah dalam bahasa non-Inggris. Ini disebabkan 85% imam masjid di Inggris berasal dari Pakistan, Bangladesh, atau India.

Jemaah shalat di Leed Grand Mosque

Situasi tersebut mencerminkan keadaan di Inggris yang 2/3 warga Muslimnya berasal dari Pakistan dan Bangladesh.

Hanya 6% imam atau khatib di Inggrris yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pertama.

Komunitas-komunitas Muslim ini merasa lebih “sreg” bila mengimpor imam dari desa-desa asal mereka di Pakistan dan Bangladesh untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka.

Tidak mengherankan apabila khotbah di masjid tidak bisa dipahami pemuda Muslim Inggris yang sudah tidak menguasai bahasa asal orang tua mereka, seperti kata seorang pekerja sosial di Birmingham bernama Abdul Ghaffar.

“Menurut pengalaman saya jarang sekali ada imam yang omongannya bisa nyambung dengan anak muda,” kata Abdul Ghaffar, sebagaimana dilaporkan BBC.

“Ini persoalan yang harus diatasi oleh masjid-masjid di Inggris. Pesan dari imam tidak bisa dimengerti karena hambatan bahasa,” tambahnya.

KEBUTUHAN JEMAAH

Kesadaran bahwa masjid harus lebih mampu memenuhi kebutuhan jemaahnya sudah lama dipahami oleh para pemuka Islam.

Dengan munculnya wacana tentang Islam radikal dan Islam ekstrim di Inggris, pemerintah mendesak organisasi-organisasi Islam mengedepankan agenda ini.

Pemerintah Inggris membantah mereka berniat mencampuri urusan dapur umat Islam. Menteri Muda Dalam Negeri ketika itu, Hazel Blears, menjelaskan bahwa pembenahan itu akan dilakukan umat Islam sendiri.

“Pendekatan saya adalah dengan menguatkan setiap komunitas agar mengambil tindakan sendiri,” katanya.

“Saya kira cara untuk mendapat perubahan jangka panjang yang berkesinambungan adalah dengan memperkuat masyarakat lokal di tingkat bawah,” kata Blears.

PROFIL YANG DIINGINKAN

Imam Hafiz Asim memenuhi profil yang diinginkan pemerintah Inggris: umurnya sekitar 30 tahun serta fasih berbahasa Inggris dan sehari-harinya bekerja sebagai pengacara.

Hafiz Asim menjalankan tugas-tugas yang lazim dilakukan imam dan khatib di mana-mana, tetapi lebih dari itu dia juga berfungsi sebagai duta bagi masjid dan komunitasnya.

“Pertama tugas saya adalah menjadi imam dan khatib sholat Jum’at, mengajar anak-anak, menikahkan jemaah saya dan mengurus kematian ,” kata Hafiz Asim.

“Di luar itu saya terlibat aktivitas antara agama, untuk memberitahu tentang budaya dan agama kita. Saya juga datang ke sekolah-sekolah, dan universitas,” tambahnya.

Dia sepakat bahwa imam harus mampu berbahasa Inggris agar bisa berkomunikasi dengan jemaahnya dan dengan masyarakat yang lebih luas.

“Saya kira semua orang sangat setuju bahwa imam harus mampu berkomunikasi dengan jemaahnya; dan di negara ini 75% ummat Islam berusia di bawah 25 tahun.”

“Mereka jadi asing dengan Islam. Setelah pemboman 7 Juli 2005 pergantian imam yang berbahasa Inggris semakin cepat. Tetapi reaksi pemerintah juga berlebihan,” katanya.

Lebih dari itu, Hafiz Asim sadar bahwa sebagai pemimpin ummat di sebuah negara sekuler dimana Islam merupakan minoritas, dia perlu membuka diri.

IMAM IMPOR SUBURKAN TERORISME?

Tak jauh dari Makkah Masjid, dengan imam Hafiz Asim,  ada  Leeds Grand Mosque, yang pengurus masjidnya diketuai Dr Bashir,  yang berasal dari Libya.

Dia merasa bahwa sekarang ini terlalu banyak imam yang tidak mengerti kehidupan ummat Islam di Inggris.

“Jujur saja banyak imam masjid di Inggris yang tidak memenuhi syarat untuk menyampaikan pesan yang tepat, dengan cara yang tepat baik dalam bahasa maupun dari segi pengetahuan, bagi masyarakat di sini.”

“Tapi apakah sebaiknya pemerintah ikut campur dalam masalah ini, itu soal lain, tujuannya akan menjadi politis. Memang pemerintah berhak memberi saran dan dukungan, misalnya dalam perbaikan pengetahuan bahasa.”

Dr Bashir menolak tegas menolak anggapan sebagian kalangan bahwa banyaknya imam impor ikut menyuburkan radikalisme di negara ini.

Pemerintah Inggris mendorong agar para imam mampu berbahasa Inggris dan mempunyai standard pengetahuan tertentu agar masjid tidak menjadi sumber radikalisme tetapi justru menjadi benteng melawan radikalisme.

Banyak kalangan Muslim di Inggris tidak setuju dengan argumen ini, tetapi mereka sependapat bahwa para imam harus mampu berkomunikasi dengan jemaahnya, agar tetap relevan dengan kehidupan kaum muda Muslim di negara ini. (bbc/d)