Thursday, 15 November 2018

Untung Cuma Cuci Kampung

Kamis, 13 Desember 2012 — 9:44 WIB
nah-sub

NGAKUNYA sudah menikah, tapi tak punya bukti surat nikah, apakah itu bukan kumpul kebo namanya? Untung saja warga Bengkulun ini masih berbaik hati, sehingga meski Wawan – Lilis dikenakan sanksi adat cuci kampung, tapi hanya diusir dari desa itu, bukan dimandikan air got seperti biasanya.

Tata nilai model Bupati Garut sebetulnya banyak terjadi dalam masyarakat. Demi menuntaskan gejolak syahwat agar menjadi halalan tayiban wa asyikan, dikawinilah wanita calon pasangannya itu dengan nikah siri. Sebab kata orang, kawin siri itu memang sidikit risikonya. Cuma Aceng Fikri ini lagi apes saja. Karena dirinya seorang bupati, maka ketika dilounching di internet dan pers oleh Fany Octora, kota Garut pun bergejolak dan mendunia.

Wawan, 35 dari Bengkulu   agaknya juga mengadopsi pola pikir Bupati Garut ini. Karena untuk menikah KUA terkendala statusnya yang sudah punya istri, dia kemudian memilih nikah siri saja dengan wanita idaman lain bernama Lilis, 30. Tapi karena nikah siri itu tak ada bukti otentik hitam di atas putih, susah untuk pembuktiannya. Ketika ada razia “senjata tajam” di kampungnya, Wawan tak bisa membuktikan diri sebagai suami istri yang sah.

Agaknya Wawan memang termasuk lelaki mata keranjang juga. Sudah punya istri, tapi melihat perempuan mulus bebas dempul, langsung berubah ukuran celananya. Dia tak sekedar mengagumi, tapi juga pengin menggumuli cewek bernama Lilis tersebut. Mau nikah resmi kemudian punya status lelaki poligami, tak ada keberanian. Padahal dorongan onderdil lebih kuat daripada kondisi materil, sehingga jalan satunya paling aman adalah nikah siri tersebut.

Begitulah, Wawan – Lilis kemudian tinggal serumah di sebuah kamar kontrakan di Kelurahan Ketapang Besar, Kecamatan Pasar Manna, Bengkulu. Dengan modal nikah siri tersebut keduanya mereguk kenikmatan sesaat sepuas-puasnya. Lilis memang cantik, putih dan seksi, sehingga ibarat kue serabi di bulan Ruwah selalu dibolak-balik di atas penggorengan. Meski Lilis sudah tidak perawan dari sononya, tapi Wawan tak ada niat untuk kirim SMS penceraian, baik itu setelah 4 hari menikah maupun empat minggu setelahnya.

Yang membuat warga sekitar terusik, rumah kontrakan itu dekat mesjid, tapi Wawan-Lilis sangat demonstratif memamerkan kemesraan keduanya. Dengar adzan dari mesjid, Wawan juga tak bergagas ikut salat berjamaah, tapi tetap duduk-duduk berdua di teras bagaikan Rama dan Sinta. “Jangan-jangan mereka kumpul kebo, nih?” kata seorang warga, mencurigai perilaku dua sejoli tersebut.

Wacana itu dilaporkan Pak RT. Demi ketertiban lingkungan, warga pun kemudian beberapa hari lalu menggerebeknya. Dalam operasi “senjata tajam” tersebut, ternyata Wawan – Lilis tak bisa menunjukkan dokumen KPI (Kuasa Pengguna Istri) alias surat nikah. Namun demikian keduanya bersikeras bahwa sudah menikah siri. Wah, mana warga percaya, sehingga Pak RT pun pada kesimpulan, Wawan – Lilis praktisi kumpul kebo.

Sesuai tradisi di kampung itu, keduanya harus dikenakan sanksi adat “cuci kampung”. Biasanya pasangan mesum tersebut dimandikan air got, baru diusir dari desa itu. Tapi Pak RT masih baikan dan tidak tegaan, sehingga Wawan – Lilis hanyalah disuruh pindah dari kampung itu dalam tempo 1 X 24 jam. Nah daripada nanti mandi aire got beneran, keduanya pun terpaksa pindah rumah.

Sebenarnya “asyik” juga ya, mandi junub dengan air got! (JPNN/Gunarso TS)

  • foke

    muridnya ng-Aceng Fikri nihhh…