Sunday, 23 September 2018

Saling Ejek di Facebook Berbuntut Aniaya

Jumat, 14 Desember 2012 — 21:39 WIB
abuse-teen

PASAR REBO (Pos Kota) – Saling ejek di Facebook dan Twitter berakhir bencana. Inilah yang terjadi pada siswa SMU Evata, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan.

Siswa kelas XII ini menjadi korban penganiayaan akibat orangtua rekan siswanya yang tidak terima tulisan ejekan yang tertulis disitus jejaring sosial.

Proses hukum pun berjalan, namun lantaran pelaku tidak ditahan, korban bersama orangtuanya mendatangi Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Jumat (14/12).

Legita, 16, bersama kedua orangtuanya Albert Tandanu, 50, dan Rosalina Anwar, 38, meminta dukungan ke Komnas PA. Pasalnya kedua pelaku Veronique dan anaknya, Angelique Rafa Samuel, yang telah melakukan penganiayaan terhadap korban hingga harus dirawat empat hari lamanya di rumah sakit tak kunjung dilakukan penahanan oleh pihak kepolisian.

“Kami ke sini untuk meminta dukungan dari Komnas PA agar pelaku yang hingga saat ini tengah menjalani proses persidangan segera ditahan. Pasalnya Veronique dibebaskan dengan alasan masih menyusui sementara Rafa pun juga dibebaskan karena masih dibawah umur,” kata Albert.

SALING EJEK

Diceritakan Legita, peristiwa tersebut terjadi pada (27/08) lalu, ketika Legita dan Rafa kerap terlibat saling ejek disitus jejaring sosial. Hingga akhirnya perkataan kotor yang ikut menghina kedua orangtuanya pun ikut keluar.

Hingga akhirnya, keesokan hari Rafa melaporkan Legita ke kepala sekolah dan dia mengatakan kalau Veronique akan datang ke sekolah. Mendengar cerita Rafa, termasuk soal rencana kedatangan ibunya ke sekolah, kepala sekolah meminta agar Rafa menemui kepala sekolah di ruang kerjanya. “Kepala sekolah mau mendamaikan di ruangannya,” kata Legita.

Setelah ditunggu sampai jam sekolah bubar, Veronique tak kunjung datang. Rafa pun melangkah pulang, namun ketika di depan pintu gerbang sekolah, melihat Legita bersama tiga temannya tengah menuju minimarket Indomart yang letaknya disamping sekolah tersebut.

Tak lama, lanjut Legita, Rafa dan ibunya, Veronique menyusul masuk ke dalam Indomart menuju posisi Legita berada. Kepadanya, setelah menanyakan siapa dirinya, Veronique secara tiba-tiba langsung memukuli Legita hingga babak belur. “Rafa juga ikut menganiaya saya sambil berteriak “ngomong apa kamu tentang saya,” ucap Legita menirukan pelaku.

Legita sempat mau dipukuli juga dengan menggunakan keranjang tempat minuman, namun tak jadi karena teman Legita keluar sambil berlari ke sekolah untuk melaporkan peristiwa itu.

Pihak sekolah, dalam hal ini kepala sekolah, tidak menyangka kalau Veronique bertindak seperti itu.

Veronique masih mencak-mencak di hadapan banyak siswa saat Legita yang dalam kondisi babak belur hendak dibawa naik taksi ke rumahnya. “Di depan siswa lainnya, Ibu Rafa bilang kalau belum berdarah, gue belum puas. Silahkan lapor polisi. Kita adu duit,” tambahnya.

Atas peristiwa yang dialaminya anak perempuannya itu, Albert lalu melaporkan Veronique dan Rafa ke Polsek Bumi Serpong Damai dan diteruskan ke Polres Tiga Raksa, Tangerang.

DIBEBASKAN

Awalnya polisi menindaklanjuti laporan Albert. Setelah sejumlah saksi dipanggil dan Veronique dan Rafa dibawa polisi untuk diperiksa.

Namun, ibu dan anak itu tidak ditahan malah dibebaskan. Alasannya, karena Veronique  masih menyusui dan Rafa dibawah umur. Keluarga pun keberatan atas sikap polisi yang dinilainya sangat subjektif, pasalnya pemukulan yang dialami Legita termasuk dalam tindak penganiyaan berat.

“Anak saya dirawat dirumah sakit selama empat hari dengan kondisi luka lebam di bagian mata dan bagian kuping belakang, tapi keduanya malah tidak ditahan,” ungkap ayah korban.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, mengaku kasus yang menimpa Legita merupakan kekerasan fisik. Pasalnya, Legita dikeroyok hingga dia dibawa ke rumah sakit dan mengalami luka lebam.

Arist juga menilai pihak kepolisian sudah benar, lantaran kepolisian berniat ingin mendamaikan mereka berdua, karena mereka masih tergolong anak-anak.

Namun, akibat pihak keluarga tetap ingin melanjutkan kasus ini ke proses hukum besar kemungkinan keduanya akan dijerat dengan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 80 ayat 2.

“Sesuai UU Perlindungan Anak pelaku bisa , diancam dengan hukuman lima tahun penjara,” ungkap Arist. (Ifand/d)

foto: ilustrasi