Sabtu, 29 Desember 2012 06:41:25 WIB

Ketinggian Air Waduk Jatiluhur Terus Diwaspadai

ilusketinggian

PURWAKARTA (Pos Kota) – Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur hindari Tinggi Muka Air (TMA) Waduk Jatiluhur melampaui 107 mdpl (meter diatas permukaan laut). Pasalnya bila melampaui ambang normal tersebut statusnya meningkat jadi waspada.

Beberapa antisipasi saat ini dilakukan untuk meminimalisasi risiko . PJT II tidak menginginkan muncul kepanikan sebagaimana terjadi pada Maret 2010 lalu, dimana TMA sempat naik ke angka 108 meter lebih. Kenaikan air terjadi akibat tingginya curah hujan pada waktu itu.

Tak heran sejumlah petinggi di DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat meninjau langsung kondisi di Waduk Jatiluhur.

Sekretaris PJT II Jatiluhur, Sehat Yuda Bhakti menjelaskan, dengan pengalaman masa lalu , ketinggian air normal adalah 107 mdpl, dan sebenarnya masih ada toleransi 1 meter. Namun bilamana melampau ketinggian itu, semisal 110 meter, pihaknya sudah harus mengambil langkah cepat untuk menurunkan debit air. Salah satunya dengan pengeluaran air darurat melalui Tanggul Ubrug. “Ini menjadi langkah terakhir, jika penanganan lain tidak membuahkan hasil,”terangnya, Jumat (28/12).

Yuda berharap, tingginya curah hujan tidak mengakibatkan ketinggian waduk melebihi ambang batas normal. Jika melihat perkembangan sekarang, sejak awal Desember kenaikannya hanya sekitar lima meter dari 93,43 mdpl.

Disebutkan,kenaikan TMA maksimum sampai Januari 2013 setinggi 5 meter. Sehingga pada Februari penambahan ketinggiannya tidak sampai 3 meter. Dengan begitu cukup aman dan masih dibawah batas maksimum TMA 107 meter.

Saat ini, lanjut Yuda, TMA Waduk Jatiluhur baru mencapai 98,52 mdpl. Ada pun TMA tiga waduk lain, yakni Waduk Saguling mencapai 634,15 mdpl, sedangkan Waduk Cirata 211,43 mdpl ( selisih sekitar 8 meter untuk posisi maksimum 220 meter).

Direktur Eksektif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat, Dadan Ramdan, mengatakan, ketiga bendungan, baik Saguling, Cirata, maupun Jatiluhur, sumber airnya memanfaatkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

Salah satu persoalan yang terjadi di DAS itu adalah sedimentasi akibat salahnya tata kelola pemerintah. Kebijakan alih fungsi hutan serta banyaknya industri yang membuang limbah ke aliran Sungai Citarum menambah deretan panjang rusaknya sungai tersebut. (dadan)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.