Monday, 24 June 2019

Busuk, Pelacur & Mucikari

Senin, 14 Januari 2013 — 11:58 WIB

Tahun 2013 sebagai Tahun Politik adalah menyangkut perilaku para politisi. Dewasa ini rakyat menilai, bermacam-macam tujuan yang dilakukan oleh oknum-oknum politikus di dalam Parpol maupun di DPR. Sebagian golongan menyatakan, oknum-oknum politikus itu di juluki “politikus busuk”.

Itulah sebabnya, maka banyak Parpol yang mulai sekarang melakukan pendataan, penelitian bahkan penjaringan, bahkan ada yang melakukan “penelitian khusus” intern Parpol dalam mengembangkan ideologi Parpolnya. Baru-baru ini ada mass media yang memuat tentang politisi busuk. Tahun 2013 ini sebagai “tahun panas”. Hal-hal penting yang harus dilakukan Parpol adalah menyeleksi orang baik untuk direkrut dan menyingkirkan politisi busuk yang tidak menjalankan fungsinya yaitu bekerja untuk rakyat. Dinyatakan bahwa politisi busuk mengganggu kerja dan kinerja pemerintah. Demikian rangkuman pendapat yang disampaikan mass media dari peneliti senior, Sukardi Rinakit serta Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Komarudin Hidayat.

Gegap gempita penelitian dan seleksi oleh Parpol dilakukan sejak dini. Rakyat papan bawah menyatakan bahwa oknum-oknum politikus busuk yang ada di DPR sekarang tidak perlu dipelihara lagi. Sebab masih banyak politisi muda yang gandrung akan perbaikan demokrasi kita. Malah jika dilihat dari jumlah golput di beberapa Pilkada meningkat. Jika kerja-kinerja DPR pada tahun ini hingga pemilu yang akan datang tidak diperbaiki, maka jumlah yang tidak memilih (golput) akan makin banyak. Yang jelas jika massa pemilih enggan dan merasa dikibuli oleh oknum-oknum politisi busuk itu, sudah dapat dipastikan bahwa pemenang mutlak Pemilu nanti adalah “golput”.

Mengapa ada perilaku dari oknum-oknum politisi busuk itu? Jawabannya sederhana. Mereka (yang dikatakan politisi busuk) tidak cocok lagi dengan kehendak dan hati nurani rakyat. Dan tidak mustahil mereka akan “menghalalkan segala cara” untuk menjadi anggota DPR yang akan datang.

Menurut hemat sementara golongan, Politisi busuk bisa disamakan dengan ”pelacur politik.” Karena kebanyakan mereka menjajakan dirinya untuk memperoleh keuntungan dengan meninggalkan idealisme serta cita-cita kemerdekaan. Kebanyakan mereka terdiri dari para politisi yang mementingkan kekuasaan dan jabatan di Legislatif. Tidak pernah memikirkan rakyat. Yang mereka lakukan selain menunggu kinerja yang hura-hura, dengan mengandalkan money politicnya mereka dinilai sebagai ”pelacur politik”.

Sebahagian rakyat menanyakan, kalau ada pelacur politik, tentu ada ”mucikari politik”? Ya, ada yaitu Germo Politik, mereka adalah oknum-oknum yang mengkoordinasi para ”pelacur politik” tersebut dengan bos-bos di Pemerintahan maupun di Legislatif. Menjajakan oknum-oknum itu untuk nantinya membela kepentingan bos, individu dan kepentingan sesaat. ltulah sebabnya beberapa pengamat politik termasuk Parpo-Parpol untuk menghapus dan menyingkirkan politisi busuk, pelacur politik dan mucikari politik. Semoga setiap Parpol mampu melihat kenyataan itu dengan jernih. Kita tunggu hasil pilihan rakyat pada Pemilu yang akan datang.*

  • Segar

    Ye tul Kong. Kalo di jaman Pak Harto korupsi bagi-bagi ye Kong?