Selasa, 15 Januari 2013 19:08:17 WIB

Ribuan Ton Ikan di Jatiluhur Mati

Kolam Jaring Apung

PURWAKARTA (Pos Kota) – Ribuan ton ikan 3mas dan nila milik pembudidaya Keramba Jaring Apung (KJA) Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, mati massal. Penyebabnya akibat terjadi umbalan atau up welling (arus balik) didasar air. Pembudidaya ikan Jatiluhurpun meradang karena rugi hingga ratusan juta.

Eko Budianto, 47, satu pemilik KJA menuturkan, ikan mati secara massal terjadi sejak Kamis (10/1) lalu. Awalnya, ikan yang mabok berasal dari kolam jaring apung asal Kampung Pasir Layang, Desa Galumpit, Kecamatan Tegalwaru. Namun, kian hari makin menyebar hampir ke seluruh kolam jaring apung yang ada di Waduk Jatiluhur ini.

“Awalnya, air di kolam menjadi putih. Dalam kondisi itu, ikan panik dan naik ke atas beberapa menit kemudian ikan itu mati. Hampir semua pembudidaya juga mengalami hal sama,” ungkap Eko, Selasa (15/1).

Diakuinya, kejadian tersebut mengakibatkan pembudidaya rugi besar. Jika dalam satu kolam terdapat satu ton ikan, maka kerugiannya mencapai Rp 14 juta per kolam. Pasalnya, harga ikan saat ini sekitar Rp 14 ribu per kilogram. Terlebih, ikan yang pada mabok siap panen.

Bencana umbalan karena cuaca buruk. Bersamaan itu, sebut Eko, pembudidaya ini sedang berupaya meningkatkan produktifitas. Dengan kata lain, saat ini geliat usaha budidaya ikan meningkat. Meskipun, belum 100 % kolam jaring apung yang ada ditanami ikan. “Kita keliru memaknai cuaca. Di awal tahun ini ternyata air waduk mengalami umbalan atau arus balik akibat cuaca ekstrim,” katanya lesu.

Disebutkan, fenomena umbalan atau arus balik ini merupakan salah satu musuh pembudidaya ikan. Akibat dari arus balik ini, ikan mas pada mabok. Mengingat, arus dari bawah memutar ke arah atas. Dengan kata lain, air seperti diobok-obok. Karena kondisi ini, sisa pakan ikan yang mengendap, turut naik ke permukaan. Hal itu, mengakibatkan air semakin keruh dan berbusa. Sehingga, ikan yang ada dipermukaan tak kuat dengan kondisi air seperti itu.

Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan (Hipni) Kolam Jaring Apung Waduk Jatiluhur, H Darwis mengatakan, sejak tiga tahun terakhir tak terdengar lagi kasus arus balik. Makanya, pada tahun ini para pembudidaya berloma-lomba untuk tanam ikan dengan harapan bisa meraih peruntungan menjelang Imlek mendatang.

“Namun, belum juga Imlek, umbalan telah menghapus impian para pembudidaya ini. Terpaksa, kami menahan kegetiran ini,” kata Darwis, Selasa (15/1).

Darwis menyebutkan, jumlah KJA yang ada sekitar 17 ribu unit. Dari jumlah tersebut, 50 % diantaranya ditanami ikan. Artinya, ada 8.500 kolam yang sedang produksi. Jika dalam setiap kolam rata-rata berisi satu ton ikan, maka kerugiannya sekitar 8.500 ton. Sebab, hampir seluruh ikan yang ditanam itu, dalam kondisi mabok. Bahkan, banyak yang sudah mati mendadak.

Terlebih, kata Darwis, saat ini harga ikan mas mencapai Rp 14 ribu per kilogram. Jika pembudidaya merugi sekitar satu ton ikan, rata-rata kerugiannya Rp 14 juta per kolam. Kerugian ini, kemudian dikalikan dengan 8.500 kolam yang sudah ditanami ikan. Berarti nilai kerugian secara keseluruhan akibat umbalan ini, mencapai Rp 11,9 miliar. “Tentulah kerugian akibat umbalan ini sangat besar,”pungkas Darwis. (dadan)

Teks : Budaya daya ikan di Waduk Jatilur merugi karena ribuan ton ikan mati

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.