Wednesday, 24 April 2019

Banjir & Siapapun Gubernurnya

Kamis, 17 Januari 2013 — 16:02 WIB

SEMULA rakyat Jakarta percaya pada Fauzi Bowo, waktu pertama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Katanya, semua masalah akan diserahkan kepada “ahlinya”, termasuk “banjir”. Tetapi ternyata hingga sekarang¬† masalah banjir di Jakarta belum juga bisa datasi. Kini Jakarta kembali dilanda banjir lagi, bahkan makin parah. Hujan yang terus menerus mengguyur Jabodetabek, menyebabkan banjir dan membuat kota Jakarta menjadi lumpuh.

Produktivitas terganggu, lalulintas barang-barang juga terganggu, sehingga mengalami kenaikan. Demikian juga sawah-sawah hancur dan beberapa sekolah juga diliburkan. Jutaan orang tidak bisa bekerja karena banjir dimana-mana. Lebih baik mereka mengamankan harta bendanya dari pada bekerja. Yang jelas banjir Jakarta telah menelan korban harta dan nyawa.

Pintu air Katulampa, Bogor dalam siaga satu, akibat tingginya debit air di pintu air tersebut. Kali ini Gubernur Jokowi yang baru menjabat sekitar hampir 3 bulan telah menjadi pusing ketika menjawab pertanyaan para wartawan.
Yang jelas siapapun Gubernurnya, Jakarta tidak akan mampu mengatasi banjir. Karena master plan dan kebijakan yang tidak jelas, sehingga pembangunan tidak terencana dengan baik. Lebih-lebih tiap Gubernur baru, membikin kebijakan baru yang tidak pas.

Rakyat tentu bertanya, bagaimana cara mengatasi banjir? Dilihat dari prospek tata ruang DKI Jakarta dengan tata ruang daerah Jawa Barat maupun Banten, adakah kesatuan pemikiran dan kesatuan dana pembiayaan? Jika tidak ada kesatuan pemikiran akan terjadilah malapetaka buat kota Jakarta. Seorang ahli tata ruang dari Belanda pernah berkata.

Dulu Pemerintahan Belanda membangun pintu-pintu air untuk mengalirkan air, supaya tidak banjir. Waktu itu Pemerintah Belanda juga membuat rawa-rawa untuk menyimpan air banjir. Ahli tata ruang kota Belanda berusia 80 tahun yang pemah bekerja di Jakarta menangis ketika melihat rawa-rawa itu menjadi Mall, Apartemen, Super Market dan bangunan lainnya, termasuk yang ada di daerah Ancol.

Itulah jeritan seorang ahli tata ruang dari Belanda. Sekarang bagaimana? Apa perlu kota Jakarta dipindahkan? Jika perlu, mengapa tidak dilakukan dari sekarang? Dari pada memperbaiki jalu-jalur yang masih memerlukan waktu yang lama lebih baik dipindahkan. Namun demikian kita tunggu program dari Pemerintah DKl Jakarta bersama dengan Pemerintah Pusat serta para pakar dan para ahli lainnya untuk duduk bersama mengatasi banjir di Jakarta. *