Tuesday, 25 June 2019

ABRI dan Membangun

Minggu, 20 Januari 2013 — 23:15 WIB

SELAIN kerugian puluhan triliun rupiah akibat dari banjir bandang di Jakarta, juga tidak terhitung jika dikaitkan dengan hilangnya sejumlah nyawa dan berbagai penyakit yang timbul.

Banjir bandang 2013, rupanya merata di seluruh Tanah Air. Dilaporkan dari Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Cianjur, sudah 6 jembatan ”roboh” dihantam banjir. Padahal jembatan-jembatan tersebut merupakan akses ke Kota Cianjur.

Demikianlah akibatnya seluruh aktivitas rakyat lumpuh. Demikian juga di daerah Sumatera. Ada yang nekad melalui genangan air yang deras itu, tetapi malang tidak bisa ditolong, nyawa harus dilalap oleh derasnya arus banjir.

Banyak lagi cerita-cerita pilu di balik kisah banjir-bandang tahun 2013. Cerita dan kisah pilu yang terjadi di Ibukota Negara Jakarta masih banyak harus digali. Sebagai contoh, salah satu televisi swasta di ibukota, memberitakan dengan visual. Tim evakuasi serta posko-posko untuk membantu warga yang terkena air banjir, menjadi masalah utama.

Dalam siaran TV menyatakan, Pemda dan pihak BNPB atau BPBD mengutamakan secepat mungkin menyelamatkan nyawa warga untuk dievakuasi. Terjadi di daerah Kampung Pulo, seorang ibu tua harus segera dilarikan ke rumah sakit terdekat, karena mengidap penyakit asma. Untung ti evakuasi dapat melakukan pekerjaan yang mulia itu. Ibu Tua itu dapat lolos dari maut.

Lain lagi yang terjadi di daerah Pluit. Seorang ibu panik dibuat oleh tidak datangnya tim penyelamat. Sudah dua hari mereka menunggu, tetapi segera dikontak dengan HP, tidak kunjung datang.

Pemda DKI memang mengutamakan evakuasi, tetapi mungkin saja yang tergenang air di Jakarta sangat luas termasuk personil tim yang masih kurang. Akhirnya ibu tersebut memutuskan untuk mencari jalan lain. Tiba-tiba muncul perahu yang untuk evakuasi.

Ibu dengan anak-anaknya dan keluarga naik ke perahu. Apa yang terjadi, sampai di tengah perjalanan pemilik yang mengemudikan perahu tersebut ngomong kepada ibu tersebut. Ibu itu dimintai bayaran Rp350.000,- harus tunai, jika tidak, akan diturunkan di tengah jalan.

Ibu yang panik itu tidak mengira bahwa di dalam situasi banjir yang memerlukan suatu bantuan tega-teganya orang memerasnya. Seperti cerita dalam film saja, Sang Ibu tidak ingin ribut atau ramai-ramai.

Yang punya perahu pun bilang, ”Bu, zaman sekarang mana ada yang gratis.” Itulah jawaban dari sang ”penolong”.  Semangat gotong-royong atau semangat Pancasila sudah terkikis dan tergerus oleh ”zaman edan”.

Itulah sebabnya jauh-jauh hari perlu pertolongan dari ABRI/TNI dan kepolisian  telah disiapkan untuk berjaga-jaga di rumah yang ditinggalkan penghuninya untuk tidak dimasuki atau dirampok maling-maling.

Peranan ABRI/TNI masih diperlukan. Ketika tanggul di Jalan Latuharhary jebol, Pemda dan Pemerintah Pusat harus segera memperbaikinya. Dalam tempo singkat, tidak sampai tiga hari sudah dibetulkan.

Penulis menyaksikan ketika berada di dekat tanggul. Tiba-tiba seorang ibu nyeletuk pada penulis, ”Untung ada TNI/ABRI, Pak, cepat bisa diatasi.” Saya manggut-manggut sambil mata saya tujukan kepada pasukan TNI baik Darat, Laut, Udara maupun Polri, juga konsep ”ABRI Masuk Desa untuk membangun.”

Penulis berpikir enam jembatan di Cianjur maupun di daerah-daerah lainnya yang ambruk segera dapat diperbaiki melalui jalur ABRI/TNI masuk Pembangunan. Mengapa? Karena ABRI/TNI adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Artinya ABRI/TNI tidak boleh dipisahkan dengan rakyat. Hal tersebut sudah ditulis oleh Empu Prapanca dalam Kitab Kertagama di zaman Majapahit. Dalam pupuh-tembang itu dinyatakan bahwa tentara dan rakyat tidak dapat dipisahkan dalam mengemban pembangunan. Rakyat memerlukan tentara dalam menjaga keamanan, tentara memerlukan rakyat untuk bersama-sama memakmurkannya.

Penulis pernah mencanangkan dalam tahun 1983 bahwa ”Dalam tubuh Rakyat mengalir darah ABRI (memerlukan rasa aman). Dan dalam tubuh ABRI mengalir darah karya-kekaryaan (membangun) bangsa dan negara.  Dan memang NKRI, ABRI tanpa mencampuri urusan politik.
Terima kasih ABRI/TNI termasuk Polri. Pokoknya “ABRI masuk Desa” untuk membangun.*

  • sseffendy

    SAMBIL MENUNGGU PERANG BENERAN. MOGA2 TIDAK TERJADI. MENDINGAN ABRI/TNI DGN BIMBINGAN PASUKAN ZENI BIKIN/PERBAIKI JEMBATAN2 KECIL2 YANG ADA DI DESA2. MUNGKIN RATUSAN JEMBATAN2 KECIL YANG DI PERLUKAN. WAHAI PAK PANGLIMA SINERGI DENGAN KEMENTERIAN DAN PEMDA TERKAIT. SANGAT BERMANFAAT. KETIMBANG MENGURUS YANG LAIN.