Tuesday, 25 June 2019

Penyakit Ketakutan

Senin, 28 Januari 2013 — 10:13 WIB

MASALAH keamanan di Jakarta dan daerah-daerah lainnya terusik. Aksi-aksi kejahatan kian marak, baik perampokan, pemerkosaan, penjambretan, pengeroyokan dan tawuran. Sudah banyak hal yang menyebabkan masalah keamanan di Jakarta. Aparat terkait dan masyarakat tidak mampu mengatasinya. Dan hampir semua daerah dilanda masalah keamanan dan ketertiban masyarakat.

Kini orang Jakarta terkena “penyakit ketakutan” jika keluar malam. Ada berbagai cara atau modus operandi untuk melakukan kejahatan. Sebagai contoh pura-pura membantu tetapi mengganggu dan menjahati. Ada lagi rumah tangga yang tenteram tetapi di rampok dan isterinya diperkosa hingga menimbulkan dampak psikologis yang buruk. Demikian juga ada modus operandi yang menggunakan “kartu nama” dan merampok di toko-toko emas, di kota-kota dan di desa-desa. Masyarakat dalam tekanan dan ketakutan karena maling dan merampok barang-barang berharga, elektronik, hingga kambing, ayam dan sapi pun dirampok.

Hal ini menimbulkan ketidak wajaran di dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Lebih-lebih yang kita bangun adalah masyarakat Pancasila yang di rancang oleh para pendiri bangsa kita untuk menciptakan suatu tatanan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang damai dan sejahtera, berkeadilan, bermartabat, beradab. Namun nilai-nilai itu kini sedang tergerus dan terabrasi.

Perampok tidak lagi takut menghadapi aparat keamanan, baik Polisi maupun aparat keamanan lainnya. Akar permasalahan pokok dari perampokan dan tindak kriminalitas lainnya seperti di kemukakan oleh pemerintah bahwa perampok toko-toko emas adalah merupakan jaringan terorisme. Artinya hasil perampokan untuk mendanai kaum teroris. Ada pula para pakar menyatakan disebabkan karena masalah ekonomi, mereka sulit memperoleh kehidupan yang layak. Lebih-lebih lagi kondisi mental spiritual dan moral rakyat Indonesia sekarang ini dalam kondisi buruk. Penilaian-penilaian itu bisa saja terjadi, karena memang kita memiliki Undang-Undang tentang kebebasan untuk berbicara dan berserikat.

Masyarakat kini tidak memiliki standarisasi mengenai kehidupannya, sebagian diantara mereka telah meninggalkan nilai-nilai luhur budaya bangsanya, yaitu yang termaktub dalam Pancasila. Sebagian lainnya telah “dibuai” oleh kehidupan yang konsumtif. Namun demikian keadaan keamanan harus dipulihkan dan diciptakan dengan di iringi keadaan perekonomian yang lebih baik untuk mendukungnya. Dalam rangka menciptakan prosperity dan security yang baik, merupakan satu kesatuan diantara keduanya yang tidak bisa di penggal-penggal. Sehingga tidak terjadi “penyakit ketakutan”. Mampukah??*