Friday, 21 September 2018

Gerakan Anti-Rokok Terus Dilawan Industri Rokok

Rabu, 30 Januari 2013 — 7:30 WIB
ilusgerakan

JAKARTA (Pos Kota)- Perlawanan terhadap gerakan antirokok akan terus dilakukan oleh industri rokok. Dengan berbagai cara, mereka melemahkan peraturan yang ada, termasuk peraturan pemerintah (PP) No 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.

Karena itu, Ketua Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) dr Kartono Mohamad meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaannya terkait propaganda industri rokok tersebut. “Industri rokok akan menggunakan cara yang halus, santun dan ilmiah untuk melemahkan aturan yang ada,” katanya, Selasa (29/1).

Menurut Kartono setidaknya ada 4 strategi yang gencar dilakukan industri rokok untuk melawan gerakan antirokok. Pertama, merekan menaburkan keraguan atas ketidakpastian ilmu kedokteran terhadap bahaya rokok dengan cara yang ilmiah. Misalnya, menyebutkan bahwa tidak semua perokok terkena kanker, tidak semua perokok mengandung nikotin pada paru-parunya berdasarkan hasil otopsi perokok yang meninggal dan sebagainya.

“Padahal endapan nikotin bisa juga mengerak dipembuluh darah perokok, dan ini juga sama bahayanya,” jelas Kartono.

Strategi kedua, industri rokok tak akan segan-segan meluncurkan produk yang seolah-olah peduli dengan kesehatan. Seperti rokok rendah nikotin, ekstra mild, dan sebagainya.

Strategi lainnya adalah mempropagandakan bahwa rokok berjasa bagi perekonomian negara. Seolah-olah industri rokok memberikan sumbangan cukai yang cukup besar, padahal bukan perusahaan rokok yang membayar tetapi justeru perokok itu sendiri yang dipaksa membayar cukai.

Lebih jahatnya lagi,lanjut Kartono industri rokok mencoba menampilkan wajah manis, baik dan bersahabat melalui berbagai kegiatan kepedulian lingkungan dengan tujuan meningkatkan citra perusahaan. Misalnya gerakan lingkungan hidup, sosialisasi kesehatan bagi anak sekolah dan sebagainya.

Berbagai strategi itulah yang sering mengecoh masyarakat bahkan pengambil keputusan dinegeri ini untuk akhirnya bersikap fleksibel terhadap rokok.

Karena itu, Kartono mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan berbagai gerakan yang gencar dilakukan industri rokok tersebut. “Jangan dipercaya apapun kata industry rokok. Sebab apapun bahasa mereka, rokok tetap berbahaya bagi kesehatan dan itu sesungguhnya disadari oleh semua industri rokok yang ada,” pungkas Kartono. (inung)