Tuesday, 25 June 2019

Pesan Pak Harto Pada SBY

Senin, 4 Februari 2013 — 12:39 WIB

RAYAT Indonesia pernah mengalami dijajah Belanda selama 350 tahun, dan di jajah Jepang selama 3,5 tahun. Sehingga tidak asing lagi dengan hidup sederhana. Bahkan waktu zaman Belanda rakyat Indonesia mengalami kehidupan “kuli di bawah kuli”. Kehidupan kuli itu sudah sederhana sekali, tetapi ini malah di bawah kuli. Sehingga di zaman Orde Lama, Orde Baru maupun Orde Reformasi kita pernah mencanangkan “hidup sederhana”.

Kita menyadari hidup sederhana untuk melatih rakyat menerima suatu kenyataan. Tetapi kenyataan yang ada hidup di bawah garis kemiskinan masih banyak dan yang miskin juga banyak. Justeru yang bergelimang dengan hasil korupsi juga tidak sedikit.

Di ibaratkan oleh seorang kyai bahwa hidup miskin dan hidup bergelimang dengan kekayaan hasil korupsi, dinyatakan oleh kyai tersebut bahwa rakyat miskin memiliki “kekayaan” yang sebenarnya, yaitu iman dan taqwa. Berbeda dengan yang bergelimang dari hasil korupsi, justeru “sangat miskin” bidang moral, iman dan taqwa.

Berbicara mengenai hidup sederhana, kita bicara mengenai produksi sandang, pangan dan papan. Dan juga kita bicara mengenai energi dan informasi. Antara pangan, energi dan informasi, yang paling cepat habisnya adalah energi, kemudian pangan. Tetapi bidang informasi akan terus berkembang dan meluber. Itulah sebabnya kita harus mampu menyeimbangkan antara produksi pangan dan produksi informasi. Maksudnya adalah, manakala produksi pangan kurang dan tergantung pada impor, maka kita akan kehabisan hidup. Untuk itulah masalah pangan adalah yang utama harus kita perhitungkan. Informasi dan pangan jangan di dekotomikan atau di konfrontasikan.

Dewasa ini masalah pangan adalah hal yang harus kita perbaiki sepenuhnya, bagaimana swasembada pangan dan pengendaliannya. Ketika Presiden SBY menjenguk mantan Presiden Soeharto di Rumah Sakit, Pak Harto mengatakan dan berpesan “jangan dilupakan mengenai swasembada pangan”, menunjukkan begitu gandrungnya Pak Harto pada masalah swasembada pangan. Tetapi kenyataannya, kita sekarang justeru mengimpor pangan. Daerah produksi pangan dan daerah produksi konsumsi terjadi ketidak seimbangan. Kita justeru mengembangkan “daerah produksi konsumsi”, padahal yang terpenting adalah “daerah produksi pangan”.

Untuk bidang energi,RAPBN kita tergantung pada migas. Sudah saatnya kita harus mampu meninggalkan energi minyak bumi, karena makin lama makin habis. Mengenai bidang informasi dalam era globalisasi, semakin lama semakin digali, makin melimpah-ruah (banjir) informasi. Oleh karena itu perlu ada kanalisasi kebutuhan informasi dengan kebutuhan pokok masyarakat desa khususnya. Contoh informasi tentang keadaan pertanian, perkebunan dan lain-lain. Itu yang dperlukan petani, bukan informasi yang bergerak di bidang politik saja, atau yang menyentuh hal-hal yang konsumtif.

Mengenai sandang kita lega, kita telah mengekspor produksi sandang, tetapi masalah papan kita masih memiliki kebersamaan dalam menentukan perumahan rakyat yang baik. Oleh karena itu kita simpulkan, jika kita ingin hidup sederhana, maka pangan di utamakan.

Caranya adalah dengan meningkatkan swasembada pangan, sekaligus meningkatkan gizi masyarakat. Tujuan dari pada peningkatan produksi pangan sekaligus peningkatan taraf hidup petani serta memperluas kesempatan kerja.

Dalam mencapai tujuan tersebut harus dilaksanakan intensifikasi dan ekstensifikasi (perluasan area pertanian) serta diversifikasi (penganeka ragaman pangan). Jika sudah mencapai “masalah peningkatan produksi dan peningkatan konsumsi”, barulah kita bisa berbicara mengenai “Kedaulatan Pangan”. Mengingat Indonesia sudah menyetujui peraturan dalam WTO secara global.*

  • sseffendy@gmail.com

    90% MAKHLUK NKRI BERAGAMA ISLAM. NAMUN KLW NKRI DIUSULKAN PAKE SYARIAH ISLAM NKRI TIDAK RIDHO.MENOLAK. DGN PENDIRIAN BEGITU BAGIMANA MAU MENCAPAI RAHMATAN LIL ALAMIN.ADA UANG ABANG DI SAYANG. TAK ADA UANG ABANG MELAYANG.