Selasa, 5 Februari 2013 16:37:15 WIB

Dalam Seminggu Bisa Dapat Rp3,5 Juta

Teh Arab di Puncak Termasuk Narkotika

narko-sub

BOGOR (Pos Kota) – Badan Narkotika Nasional (BNN) secepatnya akan memusnahkan tanaman Katinona atau Ghat/Khat alias teh arab (bahan baku narkotika jenis methylone) yang ada di kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor.

BNN mengakui, tanaman ini sudah menyebar dilahan seluas 3 Ha dikawasan wisata Puncak. Selain di Puncak, tanaman ini juga sudah tumbuh dan di budidayakan warga di beberapa daerah diwilayah Jawa Barat.

Kepala Humas BNN, Kombes Pol Sumirat Dwiyanto saat meninjau lokasi ladang Katinona di Kampung Pasir Tugu RT 01/05 Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Selasa (5/2) mengaku, pemusnahan masal akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Setelah peninjauan ini, kita akan sosialisasikan kepada masyarakat dengan memasang spanduk/plang bahwa tanaman khat ini tidak boleh lagi dibudidayakan, dikonsumsi atau diperjualbelika lagi, karena sudah masuk dalam narkotika golongan 1,”kata Sumirat.

Ladang Ghat seluas 3 Ha, tersebar di tiga Desa, yakni Desa Cibereum, Tugu Utara, dan Tugu Selatan. Diduga masih ada lagi tanaman ini tersebar dilokasi lain. Lokas yang terpantau, karena adanya peran masyarakat memberi informasi ke aparat desa dan kepolisian setempat.

narko-tengah

Tanaman katinona yang ada di kawasan Puncak, Cisarua, diakui Kombes Sumirat, masuk dalam daun terlarang, setelah hasil penelitian laboratorium BNN menunjukkan bahan baku daun Ghat narkotika yang bisa diekstrak secara kimiawi menjadi kapsul lalu diedar ke masyarakat dan disalahgunakan.

“Dalam UU Narkotika, katinona ini masuk dalam golongan I, setara dengan ganja. Kita belum bisa menindak masyarakat yang sengaja menanam dan menjualnya, karena warga umumnya tidak mengetahui ini tanaman terlarang,”paparnya.

Beberapa lokasi ladang katinona di kawasan Puncak sudah dipasangi garis polisi, dan sebagian lagi sudah dimusnahkan sendiri oleh warga sekitar.

“Setelah dimusnahkan, pihaknya tidak akan segan-segan untuk menindak tegas bagi mereka yang kedapatan memelihara, menanam maupun mengkonsumsi katinona,” ungkapnya.

Terkait dengan konsekuensi ekonomi pemusnahan ladang katinona terhadap warga sekitar yang sudah 7 tahun lebih menggantung hidupnya, maka BNN melalui program alternatif development, akan memperhatikan hal ini.
“Seperti di Aceh, kegiatan alternatif development diterapkan terhadap warga yang biasa memproduksi narkoba jenis ganja digantikan dengan tanaman yang sama-sama memiliki nilai ekonomis, tapi tidak dilarang, seperti kunyit, nilam dan jabon,”kata Sumirat.

Menurutnya, selain di Bogor, pihaknya juga sudah mendaptkan informasi zat katinona yang terkandung dalam kapsul methylone sudah tersebar di Kalimantan Timur dan Jawa Timur, termasuk Sukabumi.  Sedangkan di Purwokerto sendiri, ada kabar tanaman seperti di Puncak ini juga ada. Nanang Surantamijaya alias Jack 42, warga Kampung Tegal Batu Cibeureum yang membudidayakan tanaman ini dilahan seluas 300 meter, meminta ganti rugi kepada Badan Narkotika Nasional (BNN).

 

narko-tengah-1
Pasalnya, sejak BNN mengumumkan hasil penelitian laboratorium bahwa kapsul narkotika atau barang bukti yang disita di kediaman Raffi Ahmad itu membuat pendapatan mereka dari penjualan tanaman katinona menurun drastis.

“Begitu media ramai beritanya, nggak ada yang mau beli lagi. Biasanya daun ini dikonsumsi orang Arab. Mereka beli satu kresek sedang seharga Rp300 ribu dan kresek besar Rp500 ribu. Daun yang sudah ditanam sejak tahun 2005 ini,memberinya ekonomi lebih.
Pasalnya, dalam seminggu, ia bisa mendapatkan uang Rp3,5 juta.

“Saya dapat pertama ya tanam seperti tanam singkong. Pohon ini awalnya dari turis Timur Tengah,”kata Nanang.
Ia mengaku tidak tahu kalau pohon yang ditanam dilahan 300 meter miliknya mengandung zat narkotika golongan I.

“Saya tidak tahu. Terserah kalau mau dimusnahkan silahkan saja, asalkan ada kebijakan (ganti rugi, red) dari pemerintah, tidak perlu uang, cukup sayur-sayuran seperti wortel atau kol, sehingga pendapatan saya tidak hilang begitu saja. Saya juga tidak mau masuk penjara,” ungkapnya.

Orang pribumi tidak pernah memakan daun ini. Penuturan warga Arab, jika mengkonsumsi daun ini, maka stamina mereka tetap terjaga dan susah tidur. Warga Timur Tengah membeli pucuk katinona untuk dikonsumsi secara langsung dengan cara dikunyah.

Sementara ahli kimia Farmasi BNN, Kombes Mufti Djusnir dilokasi meminta, agar masyarakat mewaspadai bahaya penyalahgunaan tanaman katinona. Karena berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, tanaman ini positif mengandung senyawa khat atau chatinone.

“Senyawa katinona ada narkotika golongan I yang sudah masuk dalam UU Nomor 35/2009. Senyawa ini tidak boleh digunakan untuk pengobatan, keculi untuk kepentingan ilmu pengetahuan,”ujar Mufti.
Tanaman catha edulis (bahasa latin katinona) diakui, tumbuh di daerah tropis, seperti daerah asalnya yakni di negara Yaman yang memiliki iklim tropis. Dampak mengkonsumsi katinona bersifat stimulan, yang akan mengakibatkan pemakai nyaman, energik kuat, seperti tidak kenal lelah dan tidak mengantuk.

“Katinona sangat berbahaya dan bisa menimbulkan psikoaktif yang dapat mempengaruhi kerja tubuh. Tanaman ini memacu organ tubuh manusia, karena mengandung zat adiktif. Resiko paling parah adalah menimbulkan kejang jantung yang berdampak pada kematian,”tandas Kombes Mufti.

(yopi/sir)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.