Friday, 21 September 2018

Meningkat, Kebutuhan Tenaga Ahli Tekstil di Tanah Air

Minggu, 10 Februari 2013 — 18:05 WIB
Foto- ilustrasi

Foto- ilustrasi

JAKARTA (Pos Kota) – Kebutuhan tenaga kerja untuk  industri tekstil dan produk tekstil semakin besar, seiring dengan peningkatan permintaan produk tekstil di dalam negeri dan ekspor.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Ansari Bukhari mengatakan   kebutuhan pekerja di industri TPT tidak hanya berupa kuantitas, tetapi juga diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusian melalui program pelatihan.

“Industri TPT merupakan salah satu produk andalan industri manufaktur dan menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi nasional,” kata Anshari, kemarin.

Kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut, lanjutnya, tidak hanya mengalami peningkatan di tingkat operator, tetapi tingkat ahli dengan permintaan rata-rata 500 orang per tahun.

Adapun, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Kemenperin hanya mampu meluluskan 300 orang setiap tahun sehingga dibutuhkan pelatihan tambahan bekerja sama dengan perusahaan TPT di sejumlah daerah.

“Prospek pertumbuhan industri TPT akan semakin baik karena permintaan pasar di dalam negeri meningkat dan konsumsi dunia juga tinggi,” katanya.

Menurutnya,  industri TPT nasional berpeluang memanfaatkan pasar dunia dengan pembatasan impor produk dari China ke Amerika, Eropa dan beberapa negara Amerika Latin sebagai salah satu pasar ekspor Indonesia.

Selain itu, paparnya, kondisi ini juga didukung dengan mahalnya biaya tenaga kerja di Pantai Timur China yang merupakan basis industri TPT China, sehingga diyakini ada nya relokasi industri ke negara lain, seperti Bangladesh, Vietnam, salah satunya termasuk Indonesia.

“Indonesia bersaing ketat dengan negara-negara tersebut untuk menarik investasi. Biaya tenaga kerja di Indonesia relatif lebih tinggi dari ke dua negara tersebut, maka itu Indonesia harus mempunyai keunggulan,” tuturnya.(Tri/d)