Nah Ini Dia

Selasa, 26 Februari 2013 10:26:30 WIB

Polisi Pangkat Aiptu Sengaja Bikin Aib

nah-sub

SEBAGAI polisi, oknum lagi, pangkat Hermawan, 40, baru Aiptu. Tapi gara-gara bawa istri orang masuk ke dalam kebun sawit, perilakunya sungguh jadi aib keluarga. Tapi kenapa Ny. Sinta, 34, mau juga dibawa lelaki lain? Apa karena profesi polisi lebih menjanjikan daripada sopir truk?

Di zaman Orde Baru, mendikotomikan (mempertentangkan) TNI – Sipil dilarang keras. Sebab baik sipil maupun militer punya peran masing-masing dalam membangun negara. Tapi faktanya dalam masyarakat,  banyak sipil yang bergaya militer, sehingga disebut sipil yang militeris. Sebaliknya banyak pula militer yang tidak angker, sehingga disebut militer yang merakyat. Jangan sekali-kali ini disebut: militer yang sipilis, karena bisa menimbulkan konotasi lain.

Meski sudah bukan hidup di jaman Orde Baru, Sinta pribadi ternyata masih juga suka mendikotomikan hal semacam itu. Baik mana antara polisi dan sipil? Tepatnya lagi, keren mana antara polisi bayangkara, dengan sopir pembawa truk gandeng? Jelas lebih bergengsi polisi. Sebab jika kariernya bagus bisa jadi Irjen, dan bilamana menjabat Kakorlantas ada kemungkinan bisa punya rumah mewah begitu banyak macam Djoko Susilo.

Maka ketika dipacari oknum polisi Aiptu Hermawan, Sinta langsung klepeg-klepeg. Padahal sejatinya, polisi itu juga bukan manusia merdeka, karena di rumah ada anak istri. Tapi begitulah, secara materi jelas Hermawan lebih menjanjikan, daripada suaminya, Jumakin, 40, yang sehari-harinya bawa truk ke luar kota untuk mengantar barang ekspedisi.

Memang, usia suami Sinta juga sama-sama 40 tahun. Tapi jika  iklan odol di TV menyebutkan lelaki 40 tahun punya masalah dengan bau, Jumakin justru selalu punya masalah dengan keuangan! Gajinya tak cukup untuk hidup sebulan. Dus karena itu, istri Jumakin menjadi semakin tergoda untuk menerima cinta dan aspirasi urusan bawah Aiptu Hermawan itu tadi.

Riwayat perkenalan keduanya tak pernah jelas. Yang pasti oknum polisi yang bertugas Pos Polisi Desa Teluk Panji, Kecamatan Kampung Rakyat, Kabupaten Labuhanbatu Selatan ini sering jalan bareng dengan Ny. Sinta. Enak dan asyik memang bagi keduanya, tapi sangat bikin galau bagi istri Hermawan dan Jumakin selaku suami Sinta. Tapi bagaimana Jumakin mau protes? Polisi kok dilawan.

Adalah Damiri, 43, kakak kandung Jumakin. Dia sangat prihatin pada adiknya. Orang istri hanya satu-satunya, kok dirusuhi (diganggu) lelaki lain. Tapi bagaimana mau membela sang adik? Di samping merasa dirinya orang kecil, Sinta sendiri nampaknya sudah susah diberi nasihat. “Orang mau memperbaiki nasib kok nggak boleh,” begitu sindir Sinta pada kakak iparnya.

Sampailah kemudian pada kejadian beberapa hari lalu. Dia melihat Sinta dibawa oknum polisi itu masuk ke perkebunan sawit. Damiri dan sejumlah warga loyalisnya segera menghampiri pasangan yang sedang dilanda asmara itu. Walaupun polisi, dikerubuti warga lumayan banyak terdesak juga. Untung warga masih bisa menahan diri, sehingga Aiptu Hermawan tidak sampai dipukuli, kecuali diarak ramai-ramai menuju ke Mapolsek Tolan.
Keduanya pun diinterogasi hingga larut malam, untuk menemukan bukti atau pengakuan adanya perselingkuhan. Apa lagi lelakinya adalah  rekan seprofesi, di mana ulahnya bisa mencoreng nama bayangkara negara.

Nggak tega juga sih, jeruk harus makan jeruk. (Sindo/Gunarso TS)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.