Friday, 19 April 2019

Becik Ketitik Olo Ketoro

Rabu, 27 Februari 2013 — 22:49 WIB

KANCAH  politik merupakan kancah yang penuh intrik dan fitnah. Demikian juga persaingan yang tidak sehat dalam menghadapi problem-problem besar termasuk ”perilaku yang menghalalkan segala cara” dan persoalan yang berkaitan dengan ”tipu-menipu” dalam intern dan ekstern parpol.

Akhirnya banyak orang pasrah pada Allah SWT,  ”manusia berencana,  Tuhan yang menentukan.”

Tahun 2013 banyak disebut sebagai ”tahun panas,” juga merupakan ”tahun politik.” Karena seluruh komponen bangsa ancang-ancang untuk merebut kemenangan dalam pemilu maupun pilres dalam tahun 2014.

Berita-berita buruk muncul dalam tahun 2013. PKS misalnya, diluar dugaan diguncang dan kesandung masalah daging sapi. Sehingga membuat gonjang-ganjing dalam tubuh Partai Keadilan Sejahtera. Tetapi dengan cepat PKS mengambil sikap, dengan munculnya Anis Matta sebagai Presiden PKS yang baru.

Demikian juga Partai Golkar, dimana seorang jaksa menyatakan bahwa Wakil Ketua DPR  Priyo Budi Santoso dituduh terlibat dalam kasus korupsi Al Qur’an di Departemen Agama.  Dalam DPP PAN, banyak problem intern di tubuh PAN. Demikianjuga PPP dan PKB, banyak masalah di dalam partai.

Dan kini terjadi pada Partai Demokrat, dimana Ketua Umum partai tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka kasus Hambalang.

Sungguh sangat ironis, ada parpol yang semula dinyatakan sebagai partai yang bersih ternyata ada korupsi, bahkan tidak tanggung-tanggung, Presiden PKS yang terlibat. Demikian juga Partai Golkar yang memiliki ahli-ahli politik masih juga terjerumus masalah, dimana Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso tersandung masalah korupsi Al Qur’an.

Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat telah mengundurkan diri. Dalam pernyataan politiknya mengatakan ”ini barn awal.” Apakah yang diucapkan Anas betul? Kita tunggu bukti pernyataannya sebagai orang merdeka dan bebas.

Dikaitkan dengan problem-problem yang terdapat dalam intern dan ekstern parpol, secara transparan memberi makna bahwa ”becik ketitik, ala ketoro,” artinya yang baik akan terlihat dan yang buruk akan telihat lebih jelas lagi.

ltulah sebabnya banyak pemimpin, baik  di eksekutif, legislatif maupun yudikatif merasa memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap permasalahan yang dihadapi. M. Nazarudin mantan Bendahara Umum Partai Demokrat menyanyi dan berkicau dengan merdu atas nama-nama yang terkait dengan korupsi Hambalang, termasuk Anas.

Dengan pernyataan Anas yang mengundurkan diri dari Ketua Umum Partai Demokrat diharapkan tidak melakukan hal-hal yang merugikan demokrasi. Dan masyarakat juga berharap agar Anas juga menyanyi dan berkicau dengan merdu tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap problem-problem yang dialami Partai Demokrat.

Demikian juga istilah becik ketitik, ala ketoro yang memiliki nilai spiritual yang tinggi. Apakah wajar, manusia mengejar keinginannya dengan mempermainkan keadilan dan kebenaran? Dan dalam memperjuangkan hak-haknya,  Anas Urbaningrum yang berlatar belakang religi yang dianut memahami akan masalah-masalah yang berkait dengan isi dan jiwa keagamaan yang menyatakan ”manusia berusaha,  Tuhan yang menentukan” dalam nilai bahasa Jawanya becik ketitik, ala ketoro.

Semua itu akan terlihat dalam perjalanan dan sejarah baru yang akan ditempuh oleh pemimpin-pemimpin mendatang yang memerlukan keimanan dan ketaqwaan yang kuat, maupun moral dan akhlak yang lebih baik.*