Tak Ada Duit, Sewa Barakpun Jadi

Senin, 11 Maret 2013
nah-sub

ORANG berduit, selingkuh bisa gunakan apartemen atau kamar hotel. Tapi selingkuhnya masyarakat akar rumput macam Ny. Siti – Pujo dari Kalimantan Tengah ini lain. Demi penghematan anggaran, mereka cukup sewa barak bekas proyek. Prinsipnya mungkin: asyik di entong tanpa menggerogoti isi kantong.

Hotel dan apartemen jadi hunian para praktisi selingkuh, sudah bukan rahasia lagi. Dengan kemampuan uangnya, lelaki dan wanita yang punya PIL/WIL biasa menuntaskan birahinya di ranjang hotel. Ini untuk kebutuhan yang sifatnya short time. Untuk yang long time, mereka membeli atau menyewa apartemen. Itung-itungannya memang lebih murah. Tak percaya tanyakan pada Ahmad Fathonah yang terkait kasus daging sapi impor. Hanya ditemani cewek selama 2 jam saja harus bayar Rp 10 juta. Bahkan Irjen Djoko Susilo, “sewa” cewek tanpa batas waktu berani bayar Rp 15 miliar sebagai  mahar.

Pujo, 40, warga Desa Purbasari Kecamatan Pangkalan Lada, Pangkalan Bun (Kalteng), bukan orang kaya. Kaya dari mana wong pekerjaannya hanya sopir truk. Namun sebagai lelaki normal yang punya libido dan nafsu, dia tetap butuh penyaluran saat istrinya hamil tua. Sebab sejak bininya hamil 8 bulan, dia dipaksa harus “cuti” dari tugas pokoknya seorang suami. Biasanya masih dapat pelayanan ranjang seminggu 2 kali, kini harus doking total. Untuk sementara “jangkar” Pujo harus nganggur!

Bagi suami yang beriman, itu menjadi ajang laku prihatin, meper hawa nafsu demi kebahagiaan sang anak kelak. Tapi buat Pujo yang imannya hanya setebal selotip pembungkus kabel, puasa wanita merupakan ujian berat. Makanya, di rumah kelihatannya dia siap puasa, namun di luar dia selalu gresek-gresek mencari penyaluran. Paling celaka, diam-diam dia malah “menelateni” Siti, 37, istri temannya, Halim, 45, yang juga sesama sopir. Padahal sudah ada pengumuman: sesama sopir dilarang saling menyelingkuhi!

Lebih celaka lagi, Siti yang jadi istri Halim, mau saja dijadikan ban serep oleh mitra suaminya tersebut. Katanya, untuk “difersifikasi” menu, jangan rutin pada nasi yang itu-itu aja. Untuk penyegaran, harus ada selang-seling. Hari ini pakai nasi dari beras Ramos, besuk apa salahnya pakai rajalele dari Delanggu (Klaten), besuknya lagi pakai Cianjur Istana dari Jawa Barat.

Di mata Ny. Siti, rupanya “beras” ala Pujo ini cukup pulen dan sedikit kenyil-kenyil, sehingga dia doyan banget. Asal situasinya mantap terkendali, ajakan Pujo dilayani saja secara sembunyi-sembunyi. Tapi keduanya lama-lama sadar, “difersifikasi” menu di rumah sendiri sangat berbahaya. Mau pakai hotel atau apartemen, duit dari mana. Main anggaran, emangnya anggota DPR? Maka Pujo kemudian mengajak rekanan mesumnya ke sebuah barak bekas proyek. Prinsip mereka, tidak menggerogoti isi kantong, tapi tetap asyik di entong!

Selama beberapa minggu aksi mesum Pujo – Siti ini tak terdeteksi, khususnya oleh Halim, suami Siti. Dia baru curiga ketika setiap pulang, istri pasti tak di rumah. Asal ditanya ke mana saja, jawabannnya pating pecotot tidak jelas. Sejak itu diam-diam Halim mengadakan pemantauan jarak jauh. Hasilnya, ternyata Siti justru selingkuh dengan Pujo teman sendiri sesama sopir. “Kurang ajar, “tongkat persneling” diumbar masuk ke mana-mana,” omel Halim.

Beberapa hari lalu Halim berhasil membuntuti Siti – Pujo yang masuk ke sebuah barak di Desa Bumi Harjo Kecamatan Kumai. Setelah lapor pada Pak RT, penggerebekan pun dilakukan. Hasilnya tak mengecewakan, Pujo – Siti ditemukan sedang kelonan berdua. Untung warga masih punya kesabaran, sehingga keduanya cukup langsung diserahkan ke polisi, tidak sampai main pukul. Kata warga, sudah beberapa lama keduanya menyewa barak itu untuk kencan, biar lebih aman.

Mau cari aman, akhirnya benar-benar diamankan ke kantor polisi. (KP/Gunarso TS)
    

Tentang Kami

Poskota

Poskota, Poskotanews, Poskota Online adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT. Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.