Tuesday, 19 February 2019

Boby R. Mamahit Benahi Infrastruktur Pelabuhan Indonesia

Rabu, 13 Maret 2013 — 18:01 WIB
Pelabuhan Tj. Priok-n

JAKARTA (Pos Kota) – Direktur Jenderal (Dirjen)  Perhubungan Laut Kemenhub, Capt.Boby R.Mamahit akan membenahi infrastruktur di sejumlah Pelabuhan di Indonesia.

Dengan demikian kapal berukuran di atas 3.000 TEUs bisa  masuk di dermaga kompensional dan tidak lagi terhambat serta  waktu tunggu kapal bongkar muat bisa lebih cepat.

Dikatakan Bobby, banyak perusahaan pelayaran yang mengeluhkan infra struktur di pelabuhan khususnya Tanjung Priok, Medan, Makassar dan Surabaya, akibatnya timbul biaya tinggi dan beraibat masyarakat juga yang menanggungnya karena harga jual barang di pasaan menjadi naik juga.

“Ini kami lakukan  untuk memperlancar pelayanan dipelabuhan sesuai keinginan Menko perekonomian,” papa Bobby kepada wartawan, Rabvu (13/3) . “Terutama pelabuhan domestik masih perlu dibenahi.”

Sedangkan Asosiasi pemilik kapal niaga nasional atau INSA. (Indonesia National Shipps Owners Association) sebelunya mendesak pemerintah memprioritaskan pengembangan infrastruktur pelabuhan ketimbang menjalankan proyek pendulum nusantara.

BELUM MENDUKUNG

Ketua Umum INSA, Carmelita Hartoto mengatakan, penggunaan kapal di atas 3000 TEUs  yang menjadi persyaratan pelaksanaan jalur pendulum nusantara sulit dilaksanakan karena infrastruktur pelabuhannya belum mendukung.

Kedalam kolam pelabuhan dan aluran pelayaran pada dermaga kompensional rata-rata hanya bisa melayani kapal di bawah 2000 TEUs.

Dia menilai proyek pendulum nusantara terlalui dipaksakan oleh pihak Pelindo, padahal infrasstruktur pelabuhan tidak memadai khusunya Tanjung Priok. “Benahi dahulu pelabuhannya, dan kepastian jumlah muatan, bukan mewajibkan setiap pelayaran harus pakai kapal di atas 3000 TEUs,” tegas Carmelita.

Menurutnya,  kegiatan angkutan laut domestik belum membutuhkan kapal berkapasitas 3000 TEUs ke atas atau 5000 TEUs  sehingga. proyek pembangunan jalur pelayaran Pendulum Nusantara yang sudah digabar-geborkan Pelindo ll belum dibutuhkan.

Saat ini, jalur tersibuk yakni Jakarta-Belawan dan Surabaya-Makassar baru bisa menggunakan kapal dibawah 2.000 TEUs. Masalah utamanya ada di muatan yang masih belum berimbang.

Selain itu  kedalaman alur pelayaran, serta fasilitas pelabuhan yang terbatas.

Rata-rata kata Carmalita,  arus kontainer Jakarta-Belawan dan Surabaya-Makassar baru mencapai 3.000 TEUs per minggu sehingga cukup diangkut dengan kapal berkapasitas 1.700 TEUs, sementara dari arah sebaliknya cenderung kosong,” jelasnya.

“Emangnya mau disandarin dimana Kapal di atas 3000 TEUS itu? Terus apa ada barang muatanya ada tidak, itu harus dipikirkan, pelabuhannya saja belum beres, tapi dirutnya teriak-teriak kayak udah beres dan cenderung menyalahkan semua orang,” “kata Carmelita.

Oleh karenanya dia meminta operator pelabuhan BUMN di Indonesia lebih agar fokus saja memperbaiki layanan di pelabuhan, terutama pelabuhan konvensional dan general cargo karena sumber inefisiensi logistik di sektor angkutan laut ada di dua sektor tersebut.

“Kami tahu kondisi pelabuhan sepeti apa karena kami yang menjalani usaha di tempat itu. Boleh saja orang lain dibohongi, tapi kami tidak bisa,” sentil Carmelita.

Selain itu, dia minta   dilakukan moratorium tarif di seluruh pelabuhan di Indonesia hingga waktunya untuk dinaikkan. Sebab saat ini belum waktunya. Tapi hampir semua pelabuhan sudah menaikkan tarif sehingga biaya logistik bukan malah turun, tetapi masalah meningkat.

“Kalau begini harga barang yang dijual di masyarakat akan tinggi, kasihan masyarakatnya, ” katanya . (Dwi/d)