Senin, 25 Maret 2013 09:07:17 WIB

Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan Meningkat

linda-sub

JAKARTA (Pos Kota) – Kekerasan pada anak dan perempuan makin meningkat. Berdasarkan data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi DKI Jakarta, pada tahun 2011  kekerasan mencapai 1.381 kasus dan tahun 2012 melonjak menjadi 1.429 kasus.

“Lebih dari 70 persen  kasus kekerasan dialami perempuan,” keluh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PP-PA), Linda Amalia Sari Gumelar di Jakarta.

Dari ribuan kasus kekerasan itu, kata Linda, jumlah tertinggi terjadi di DKI Jakarta. Tahun 2012 terdapat  325 kasus kekerasan terhadap anak. Jumlah ini naik dua kali lipat dibandingkan 2010 yang mencapai 155 kasus.

“Tindak kekerasan pada anak dan perempuan sudah tidak bisa ditolerir  lagi karena makin merajalela. Sangat memprihatinkan dan perlu komitmen tinggi secara kolektif untuk memerangi  ini,” ujarnya.

Linda berharap, Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang akan direvisi dapat mengakomodir kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan memberi sanksi lebih berat kepada pelaku.

Menurut istri mantan Menhub Agum Gumelar ini, kasus kekerasan pada anak dan perempuan tidak hanya menjadi isu penting di Indonesia. Kasus ini juga menjadi isu penting di ASEAN.
Bahkan saat menjadi Ketua Delegasi RI yang  menghadiri Persidangan sesi ke-57 Komisi Kedudukan Wanita PBB (Comission on the Status of Women-CSW) baru-baru ini, Linda juga menyampaikan pidatonya bahwa kawasan ASEAN harus  berkomitmen tinggi dengan zero tolerance policy terhadap Violence Againts Women (VAW). ASEAN juga harus berkomitmen memerangi HIV-AIDS.
Ketika pidato di PBB, Linda berbicara atas nama ASEAN yang terdiri dari 10 negara yakni: Indonesia, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos PDR, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Vietnam dan Thailand.

“Meski telah banyak ragam capaian dan progres yang diraih dalam advokasi terhadap hak perempuan, namun kekerasan terhadap perempuan dan anak masih seringkali terjadi dalam lingkungan rumah tangga dan juga masyarakat umum,” kata Linda.
Wakil Ketua P2TP2A Margaretha Hanita menambahkan, meski kasus kekerasan pada anak dan perempuan meningkat, Indonesia mengalami kemajuan dalam menangani upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menurutnya, meski kasus yang terjadi masih besar dengan modus operandi yang makin beragam, namun penanganannya semakin membaik.

“Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan semakin menakutkan dan memakan korban. Dari ratusan kasus terhadap anak,  kebanyakan  adalah kekerasan seksual pada anak usia 12-18 tahun. Bahkan sekarang, kekerasan seksual sudah dialami anak usia 4 tahun. Pelakunya bisa  keluarga dekat, seperti  ayah kandung, ayah tiri, paman, guru dan lainnya. “Ini sangat memprihatinkan,” kata Margaretha.

Dia berharap agar masyarakat tidak ragu melaporkan semua bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak kepada pihak berwajib. Pihaknya (P2TP2A) berjanji akan melakukan pendampingan untuk mengatasi dan memulihkan korban.

(aby/sir)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.