Nah Ini Dia

Selasa, 2 April 2013 09:15:54 WIB

Nafsu Sipir Tak Terhalang Tembok Penjara

nah-sub

BAGI sipir penjara macam Halim, 47, ini, mengawasi napi ternyata lebih mudah daripada mengawasi nafsu sendiri. Buktinya, ketika setan membujuknya untuk “berkoalisi” dengan sipir wanita bernama Yanik, 37, dia tak mampu mengendalikannya. Walhasil, di rumah teman sesama sipir tersebut Halim berpacu dalam birahi sampai digerebek massa.

Naluri setiap napi pastilah ingin bebas secepatnya. Bahkan bagi yang tak sabaran, begitu mahalnya kebebasan itu, banyak yang nekad mencoba kabur dari LP. Tak peduli tembok tinggi, tak peduli penjagaan ketat, dia mencoba minggat dengan segala resikonya.
Kalau apes, bisa mati didor meski bukan di LP Cebongan, Yogyakarta. Kalau “mujur”, dia bisa bebas sementara waktu, karena cepat atau lambat bakal ketangkap jug macam Edi Sampak dari Cianjur dulu.

Terhalang oleh tembok yang tinggi, kebanyakan napi memang pasrah pada nasib. Tapi nafsu, tak kenal tembok tinggi. Seperti sipir penjara bernama Halim ini contohnya. Ada teman wanita sesama sipir lumayan cakep, nafsunya menggebu-gebu untuk menjajalnya. Padahal mestinya dia sadar, bahwa Yanik bukan manusia bebas merdeka. Di rumah ada suami dan anak-anak. Tapi setan memang jago melobi. “Tenang saja Bleh, bersamaku semua bisa.” Kata setan meyakinkan.

Di sela-sela kesibukan tugasnya, Halim sempat juga mengadakan pendekatan pada Ny. Yanik. Ternyata usahanya tidak sia-sia, karena perempuan itu juga memberi sinyal positif. Walhasil, penjara yang sumpek bagi para napi, bagi Halim – Yanik tetap endah saja. Lalu bagaimana dengan tugas kesipiran? Oh, ya tetap fokus dong. Jangankan ngawasi napi tak bisa disambi pacaran, lha wong ngurus pemerintahan saja juga bisa disambi ngurus partai, kok!

Seperti lazimnya orang yang terlibat koalisi asmara, mesti selalu dilanjutkan dengan “eksekusi” sebagai bukti cinta berdua. Jelas di dalam LP tidak mungkin, sehingga kemungkinan lain hanyalah di hotel atau di rumah. Untuk di hotel, sekali dua kali masih bisa. Tapi jika menjadi sebuah rutinitas, apa nggak enak di entong tapi jebol di kantong?

Kebetulan suami Yanik sering tugas keluar kota. Hal ini dijadikan solusi oleh Yanik demi memanjakan sang PIL. Maka di kala suami tak di rumah, Yanik dengan suka hati mengajak Halim masuk  kamar di rumahnya Gang Perintis, Pekon Kampung Jawa, Kecamatan Pesisir Tengah, Krui, Lampung Barat. Mereka berasyik masyuk bak suami istri saja. Andaikan nafsu Halim itu sebuah tahanan yang bandel, Yanik segera memasukkannya dalam “sel” agar kapok!

Lama-lama aksi “tahanan dalam sel” ala para sipir itu ketahuan oleh mertua Yanik. Tentu saja dia marah dan tidak terima, kenapa istri daripada anaknya justru memberikan cintanya pada lelaki lain? Untuk memberi tahu langsung pada anaknya tidak tega, akhirnya bapak mertua justru mengerahkan pada warga untuk menggerebeknya. “Kasih mereka pelajaran, biar kapok.” Kata bapak mertua memberi petunjuk.

Yanik sama sekali tak tahu bahwa aksi mesumnya sudah masuk radar mertua. Maka malam itu keduanya asyik-asyik saja. Nggak tahunya, tiba-tiba kamar digedor-gedor sejumlah warga. Keduanya tak berkutik saat digelandang ke kantor polisi. Saat digerebek memang tidak ada bukti perbuatan mesum itu. Tapi lelaki lain masuk kamar istri orang sampai tidur segala, sudah bukti kuat terjadinya perselingkuhan itu. Sayangnya suami Yanik tidak juga membuat laporan, sehingga polisi tak bisa menahan Halim.

Kalau dipidanakan, bakal masuk kantor sendiri dong! (TNC/Gunarso TS)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.